disclaimer: tulisan ini akan sangat berantakan karena ungkapan kekesalan pribadi.
 

Pernyataan tentang "sekolah itu gak penting" sudah ada sejak dulu. Ketika saya ada di bangku SMA pun tren ini sudah digaungkan kemana-mana, termasuk dengan mengambil tokoh-tokoh (yang dari dulu juga sama gak pernah diupdate) seperti Steve Jobs dan Bill Gates.

Jujur saja, saya eneg banget sama orang-orang yang melakukan pembenaran akan kemalasan dia dengan pernyataan "sekolah itu ga penting, yang penting skill". Iya, saya pun setuju bahwa yang paling terpenting adalah apakah kamu memiliki kemampuan untuk solve the problem atau tidak. Namun, biasanya orang-orang yang ngomong begini adalah orang yang sebetulnya belum sepenuhnya menamatkan apa itu "sekolah dan pendidikan". Lah, solve their education problem aja belum tuntas kok udah ngomongin skill.

Saya pernah mendengar kalimat dari seseorang begini:

"Kamu boleh ngomong sekolah itu ga penting. Silahkan, itu adalah opinimu. Tetapi pastikan dulu kamu pernah menamatkan sekolah hingga akhir. Coba deh tamatin Sarjana dengan nilai yang paling bagus dan tepat waktu tanpa cheating. Setelah itu, lanjutin studi S2, setelah S2 langsung lanjut Doktor (S3). Ketika kamu sudah lulus dan menjadi Doktor secara tepat waktu dengan nilai yang baik, kamu boleh ngomong sekolah itu ga penting!"

Kalimat ini sangat menampar saya dan meyakinkan saya bahwa kalau memang kamu ingin berpendapat sekolah itu tidak penting, boleh saja, asalkan kamu udah pernah nyoba "bagaimana itu sekolah"  sampai akhir. Biasanya, yang paling keras bilang sekolah itu ga penting adalah orang-orang yang gak lulus, tapi punya banyak duit dan kebetulan dibantu mamah papah bikin bisnis yang gak bagus-bagus amat, tapi karena modalnya gede sokongan dari mamah papah yang bikin bisnisnya ngalir.

Lagian ya, kenapa sih selalu mengambil tokoh Steve Jobs, Mark si pegawe pesbuk itu, Bill Gates, dan kalau tokoh dari Indonesia ya Bob Sadino. Kenapa tidak ada update? Dari dulu itu mulu yang dicontoh. Padahal, dalam pengembangan akademik dibutuhkannya pembaharuan. Suatu model tidak bisa digunakan jika tidak ada unsur pembaharuan. Kalau tidak ada pembaharuan, maka margin of error akan semakin besar karena tidak relevan dengan perkembangan perilaku manusia yang semakin dinamis. Orang yang ngomong sekolah itu ga penting, ngerti ga ginian? Gak ngerti kan?

Ditambah, sifat variabel tokoh-tokoh di atas itu adalah outlier. Tau outlier? Kalau kalian membuat skripsi, pasti sebelumnya kalian harus mempelajari mata kuliah statistik. Outlier secara sederhana adalah data yang gak normal. Misalnya di antara 1000 orang yang tidak lulus kuliah, hanya 1 orang yang bisa sukses dan kaya raya. Nah 1 orang ini adalah outlier. Jadi, kenapa kita lebih percaya data outlier jika faktanya terdapat 999 orang gak sukses? 

Orang yang ngomong sekolah itu ga penting, ngerti ga ginian? 

Sekarang, coba hitung dari sekian milyaran orang di Indonesia (gak usah ngomongin dunia), ada berapa orang yang sukses tapi gak lulus sekolah? Ada berapa manajer dan direktur perusahaan yang gak lulus sekolah? Kamu bisa coba cek di Alfamart, tanyain satu persatu gerai Alfamart, hitung ada berapa manajer toko yang lulus sekolah sama yang enggak, banyakan mana?

Kalian coba tanya-tanya ke ribuan orang yang gak lulus sekolah, lihat apa pekerjaan mereka sekarang? Ada ga yang jadi manajer perusahaan? Hitung, ada berapa banyak jika dibandingkan yang pekerjaannya hanya serabutan?

Memang, kalian pasti menemukan orang yang gak lulus sekolah tapi bisa sukses, punya bisnis ini itu, duitnya banyak, istrinya cantik, tapi ada berapa? Terus kalian percaya sama satu orang itu dibandingkan ribuan fakta yang ada?

Ibaratnya, kalau ada obat batuk A dan B. Obat batuk A diuji ke 100 orang dan 70 orang terbukti sembuh, sedangkan obat batuk B diuji ke 100 orang dan hanya 5 orang yang sembuh. Secara logika, kalian lebih percaya mana; obat batuk A atau obat batuk B? Jika kalian memiliki akal sehat, pastilah lebih mempercayai obat batuk A dibandingkan B kan?

Orang yang ngomong sekolah itu ga penting, ngerti ga ginian?

Terus tanpa sekolah, kalian gak mungkin bisa ngebacot sesuka hati seperti itu. Sekolah memang tidak menjamin kalian bisa sukses, tapi setidaknya memperbesar kalian buat itu. Sekolah memang tidak menjamin membuat kalian pandai, tapi setidaknya sekolah itu berusaha membentuk pola pikir.

Pola pikir yang dibentuk oleh orang yang belajar matematika meskipun gak ngerti gunanya buat apa di kehidupan sehari-hari, itu pasti berbeda dengan pola pikir orang yang kerjaannya rebahan main mobel lejen, terus PR matematikanya mengandalkan nyontek dari temen. Bakal beda!

Kalau kalian tidak percaya, coba silahkan kalian melamar pekerjaan yang posisinya tinggi; manajer, atau staff ahli, atau jika kalian adalah seorang yang punya perusahaan dan ingin merekrut tim ahli. Lebih disukai mana: prestasi juara harapan olimpiade matematika nasional, atau prestasi berhasil ngegendong beban tim sampai ke mythic di mobel lejen?

Lalu, mengenai tokoh-tokoh di atas. Si Mark dan Bill Gates itu meskipun kena DO, dia adalah mahasiswa dari Harvard, bukan pulupulu university. Bob Sadino memang hanya lulusan SMA. Tetapi dia lulus SMA pada tahun 1950an. Indonesia aja masih baru anget-angetnya merdeka. Di masa itu, bocil-bocil lain udah syukur lulus SD, nah ini si bocil Bob Sadino malah udah lulus SMA! Kalau di zaman sekarang udah setingkat S2 mungkin itu. Kedua, Bob Sadino ini mahir bahasa Jerman, Belanda, dan Inggris. 

Nah kamu ini, udah sekolah cuma di pulupulu university, bahasa asing juga cuma ngertinya fuck you yes or no, lalu dengan sombongnya ngomong "sekolah itu gak penting"?

Orang yang ngomong sekolah itu ga penting, ngerti ga ginian? 


IJAZAH ITU GA PENTING?!

Saya pernah scroll sosmed dan menemukan salah satu video yang...... kelihatannya diplomatis, tapi dari gaya bicaranya terkesan cuma copas omongan dari content creator yang lain. Kalian bisa simak videonya di sini. Intinya, si Mas Danang Sadewa ini (sesuai di akun tiktoknya sih ini) bilang kalau ijazah itu udah ga relevan lagi di zaman sekarang.

Hei, Mas Danang Sadewa; affa iyyahh??

Mas Danang Sadewa yang saya hormati, saya setuju jika ijazah bukan berarti kita pernah belajar atau berpikir atau apalah itu hasil cuplikan dari Rocky Gerung, ijazah hanya selembar kertas yang menandakan kita pernah sekolah.

Lulusan Sarjana Ekonomi belum tentu ngerti soal ekonomi, bisa ngang-ngong juga. Nah, apalagi yang bukan Sarjana Ekonomi?

Perusahaan zaman sekarang lebih mengedepankan skill ketimbang ijazah? Saya setuju! Tetapi kalian juga harus tahu jika kita hidup itu berkompetisi. Kalau misal ada orang yang punya ijazah dan punya skill sekaligus, lebih dipilih yang mana?

Coba sekarang Mas Danang Sadewa pergilah ke perusahaan-perusahaan yang kata Mas Sadewa menganggap ijazah itu gak penting, bilang ke mereka "Saya mau melamar kerja sebagai manajer pemasaran, tapi ijazah saya cuma SD. Tapi saya ahli kok di bidang digital marketing". Kalau itu PT Rifan, iya saya percaya. Tapi saya tidak yakin Anda tidak dislepet sama HRD kalau di perusahaan yang normal.

Kedua, kita itu sejago apa sih? Jangan merasa di dunia ini kita MC padahal kita itu cuma NPC. Kalau saya sih, saya sadar jika saya bukanlah seorang MC yang 'wuah'. Saya butuh ijazah untuk mencari kerja dan untuk memperbesar kemungkinan saya lebih berhasil.

Buka usaha? Kalau berhasil ya syukur. Tetapi yang perlu diingat, buka usaha tidak semudah kalian bikin telur ceplok. Banyak orang yang lulusan sekolah bisnis aja bikin usaha bangkrut. Kalau mamah papahnya bisa support modal banyak sih tidak masalah, mungkin bisa bertahan. Tapi gimana kalau tidak ada mamah papah yang support modal? Cari kerja? Butuh ijazah!

Lagipula, kalau ijazah itu tidak penting; mengapa banyak sekolah yang biayanya terus naik tiap tahun? Bahkan banyak sekolah-sekolah baru yang terus bermunculan. Bukankah jika banyak orang yang yakin bisa sukses tanpa ijazah, maka peminat sekolah itu pasti akan berkurang? Faktanya, biaya pendidikan terus naik tuh?

Itulah teori signaling. Artinya, kalau kita memiliki ijazah, kemungkinan dan seharusnya, kita menguasai bidang itu. Ijazah itu validitas alias alat untuk memvalidasi. Memang tidak 100% bisa membuktikan, tapi setidaknya lebih menjamin dibandingkan orang yang tidak memiliki validitas pendidikan. Emang ente mau diperiksa sama dokter yang gak lulus kuliah manajemen di pulupulu university? Gak lulus kedokteran aja pasti mikir dua kali, apalagi ini gak lulus kuliah manajemen!

Ijazah memang tidak menjamin kita pasti akan kaya, pun tidak menjamin bahwa kita pasti pernah berpikir. Tetapi, memiliki ijazah menempatkan kita kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hal yang tidak didapatkan oleh orang yang tidak memiliki ijazah.

Dari sini, apakah ada tanggapan, wahai Mas Sadewa?