Halo semuanya!

Kita semua tau apa itu Bank Indonesia. Tetapi, tidak semua tau "apa kerjanya Bank Indonesia?".

Secara sederhana, Bank Indonesia merupakan bank sentral alias induk dari segala bank. Sama seperti halnya perbankan kayak BRI, BNI, BCA, Bank Indonesia (BI) juga memiliki nasabah. Hanya saja, nasabahnya bukan orang pribadi seperti kita, tetapi nasabahnya adalah perbankan kayak BRI, BNI, BCA itu tadi.

Jadi, kalau ada yang penasaran "duit kita-kita yang ada di bank itu simpen kemana ya?", jawabannya perbankan nyimpen duit-duit kita itu ya di Bank Indonesia ini. Karena sejatinya, jumlah uang beredar itu kebanyakan hanya terekam secara algoritma alias digital, bukan full uang kertas. Itulah mengapa kalian yang transfer beda bank kena biaya admin Rp2.500, itu karena ada fitur BI-FAST, alias duit kalian itu "ditransferin" sama Bank Indonesia. Kenapa? Ya karena perbankan itu juga ujung-ujungnya "nabung" juga di Bank Indonesia. Terima kasih lah wahai kalian karena sekarang kita tidak perlu kena biaya admin Rp6.500 lagi.

Sudah paham ya fungsi Bank Indonesia ini buat kita-kita?

Nah sekarang, kita melihat bahwa Bank Indonesia ini ternyata adalah lembaga independen! Yap, Bank Indonesia itu "bukan milik" pemerintah. Mereka berdiri sendiri, karyawannya juga bukan karyawan PNS. Terus, apakah kalau bukan milik pemerintah itu berarti Bank Indonesia adalah lembaga swasta?

Jawabannya: bisa iya, bisa tidak. Alias, lembaga swasta di sini bukanlah pengertian lembaga swasta yang selama ini kita pahami.

Kita bahas dari muasal adanya bank sentral yang terpisah dari kepemilikan pemerintah ini.


Muasal Adanya Bank Sentral

Semua di awali di Benua Amerika yang dikenal dengan julukan "polisi dunia" (anjay).

Jika kalian bertemu dengan turis asal Amerika, lalu ketika ditanya mereka berasal darimana, kebanyakan mereka menjawab nama negara regionalnya, misal "From Texas", "From California", "From Virginia", "From Florida". Jarang sekali mereka yang menjawab "From United States" atau "From United States of America". Jaraaaanng banget!

Kenapa? 

Karena memang begitulah kondisi psikologis orang Amerika. Mereka itu anti sama yang namanya centralised alias sentralisasi. Perlu diingat bahwa orang Amerika itu merupakan mantan koloni Inggris yang mereka itu merasa kureng dengan kebijakan sentralisme Inggris, dimana kita-kita semua harus bayar upeti untuk kerajaan yang nun jauh di sana dan ga penting-penting amat. Jadi, bisa dikatakan orang Amerika ini representasi orang Inggris yang rebel dan muak sama kebijakan yang berbau "pusat".

Itulah mengapa ada istilah "American Dreams", "The Island of Dreams", karena memang branding di Benua Amerika itu ya buat orang-orang yang punya sifat rebel dan ingin kebebasan. Makanya Amerika menjadi negara dengan varietas imigran terbanyak, alias dari ras pithecantropus erectus sampai orang Wonosobo juga bisa hidup bebas di Amerika demi "dreams" mereka.

Nah sikap anti sentralisasi ini yang bikin pusing dan penuh awikwok karena tiap state bisa bikin kebijakan moneter sendiri, bikin uang sendiri, bikin pemerintahan sendiri.

Njlimet. Susah kalau begini. Kalau begini mah sama aja bikin negara sendirian aja gausah menjadi state

Karena kebijakan ekonomi moneter yang berbeda-beda dan awut-awutan gini, akhirnya Amerika bikin bank sentral yang bikin kebijakan terkait moneter biar tidak terlalu njlimet dan mengatasi perbedaan kebijakan di setiap state, jadi ga bikin pusing warga.


Fenomena Panic 1907

Ketika Amerika ingin membuat bank sentral, lahirlah The First Bank of United States, tetapi gagal karena ditolak masyarakat. Masyarakat gak mau kehadiran bank sentral ini, belum lagi sistemnya aneh, kebijakannya juga aneh. Bisa dikatakan, The First Bank of United States ini kurang mateng. Itulah mengapa ditolak sama warga Amrik. 

Akhirnya dibuat lagi bank sentral dengan sistem yang lebih mateng, lahirlah The Second Bank of United States. Hasilnya? Tetap saja gagal total! 
Bukan hanya gagal, tapi GAGAL TOTAL. Bank sentral ini benar-benar ditolak mentah-mentah sama warga Amrik. Apalah bank sentral ini, apa bedanya sama Inggris? Begitulah mikirnya...

Sampai pada suatu hari, ada masa Amerika tidak memiliki bank sentral. Tidak ada koordinator ekonomi di sini.
Ibarat kalau kerajaan semut tidak ada ratu semut, bakalannya pada ngawur. Tidak ada yang menjaga ekonomi moneter negara, jadilah Amrik mengalami krisis Panic 1907. Masyarakat jadi jatuh miskin!
Boro-boro mencapai "dreams", buat makan aja susah. Datang ke Amerika yang menginginkan kebebasan malah jatuh miskin. Hadeeeeehhh menyesal hidup di Amrik tapi sudah terlanjur stay. Jadilah Tahun 1907 adalah masa dimana Amerika menjadi negara yang masyarakatnya kismin-kismin. Kalau gini caranya, lebih enak hidup di Jombang dah.

Akhirnya, warga AS itu pada sadar.
"Hmmm ternyata penting juga ada bank sentral".
Tapi pertanyaannya: bagaimana membuat bank sentral tapi tidak sentral?

Nah, aneh kan? Njlimet lagi nih!
Akhirnya, lahirlah The Federal Reserve System (The FED). Dibuatlah bank sentral yang bukan milik pemerintah, tapi juga bukan milik swasta, tetapi HYBRID!

Struktur yang unik ini emang aneh pada waktu itu. Tapi bagaimana lagi? Ini kemauan rakyat AS. Kalau kata Pak Prabowo mah: semua demi rakyat!11!!!!1!!!!!1!!
Jadi terbentuklah bank sentral tetapi tidak sentral, tidak murni swasta, tapi juga tidak murni pemerintah.

Konspirasi The FED

Di Indonesia, banyak sekali penganut teori konspirasi yang menyatakan bahwa karena The FED ini tidak dimiliki pemerintah, maka The FED adalah lembaga swasta. Karena lembaga swasta pasti mencari untung. Ya kalau tidak mencari untung emang apaan? Yayasan aja nyari untung!

Padahal, ini tidak benar.
Penganut teori konspirasi pasti orang random yang kebetulan baca atau nonton video tentang kritik terhadap sistem perbankan atau fiat, kemudian cocoklogi sendiri dan menyimpulkan sendiri.
Tidak mungkin ada orang ekonom yang percaya teori konspirasi ini, kalau ada yang percaya, berarti memang kepalanya dia patut dipertanyakan. Jangan-jangan yang nempel di leher itu timun bukan kepala.

Menjadi lembaga yang independen bukan berarti statusnya menjadi lembaga swasta seperti yang umumnya kita pahami. Tidak begitu. Termasuk Bank Indonesia juga yang dikatakan swasta, padahal Bank Indonesia termasuk ke lembaga independen yang tidak murni swasta, juga tidak murni pemerintah alias HYBRID.

Tolong ya, jangan menjadi orang yang justru memperlancar terjadinya "the death of expertise era"
Karena alasan mengapa Bank Indonesia dan bank sentral di seluruh dunia ini digerakkan oleh sistem HYBRID yang akan saya jelaskan setelah ini.

Bagaimana Jika Bank Indonesia Ada di Bawah Pemerintah?

Sebenarnya, bank sentral yang dijalankan dengan sistem HYBRID alias lembaga independen yang tidak 100% swasta, tidak 100% pemerintah ini juga diimplementasikan oleh negara lain di seluruh dunia.
Tetapi, ada negara yang gak masuk akal menjadikan bank sentralnya ini dipegang kendali pemerintah.

Negara itu bernama: Turki.
Bank sentral di Turki itu berada atas kendali pemerintah. Kenapa? Karena presiden mereka, Mr. Erdogan, menolak adanya independensi bank sentral di Turki. Erdogan itu benci sama orang yang ngatur kebijakan ekonomi moneternya dia, jadilah dia memecat gubernur bank sentralnya berkali-kali. Setahun sekali Erdogan memecat gubernur bank sentralnya. Udah kayak bayar pajak motor aja.

Jadi begini singkatnya..
Turki itu sedang mengalami krisis ekonomi, inflasinya itu lagi tinggi. Ente belanja di Turki itu lagi murah-murahnya, mata uang Turki itu lagi diskon 70% karena mengalami penurunan sebanyak itu. Solusi dari permasalahan ini adalah menaikkan suku bunga. Udah fix, semua ekonom pasti ngomong gitu.
Ingat ya, kalau ada ekonom yang agak laen berarti itu kepalanya isi waluh jipang.

Mengapa kok solusinya menaikkan suku bunga?
Karena kalau suku bunga tinggi, otomatis kredit jadi mahal. Perusahaan jadi lebih berhemat, orang-orang yang demen pinjol juga mikir-mikir kalau bunganya ditinggikan. Orang yang hobi ngutang pulsa lewat paylater juga bakal menghemat kebiasaan nonton yutup nonstop sampe pagi. Semua itu ngasih efek domino sehingga kegiatan ekonomi menjadi melambat. Karena melambat, otomatis inflasi bisa diturunkan. Semua orang gak terlalu menggebu-gebu buat beli atau meminjam sesuatu. 

Suku bunga yang tinggi, bagi investor asing juga jadi menarik. Investor asing akan berbondong-bondong beli Turkish Lira buat investasi ke Turki. Akhirnya, mata uang Turki akan kembali menguat. Kalau ente pernah belajar makroekonomi, pasti paham mengenai kurva dan hukum supply demand. Secara sederhana, begitu.

Nah, masalahnya, si Mr. Erdogan ini anti banget sama suku bunga tinggi. Gak suka pokoknya. Dari Gubernur Murat Centikaya, Mr. Erdogan memaksa untuk diturunkan bunga, tapi Pak Murat  Centikaya bersikukuh "gak boy, solusiya gabisa gitu boy, ente ingin kita semua escape dari masalah ini tapi elu malah nurunin suku bunga.". Akhirnya Pak Murat Centikaya dipecat.

Ganti lagi Gubernur Murat Uysal, Om Uysal ini awalnya nurut sama Erdogan. Suku bunga diturunkan sedikit demi sedikit. Tetapi, yahh sesuai teori ekonomi (NIH GW KASIH TAU TEORI ITU PENTING BRAY), Turkish Lira malah semakin terpuruk, inflasi semakin naik, rakyat semakin kesusahan. Akhirnya Om Uysal kembali sadar, satu-satunya solusi adalah menaikkan suku bunga. Om Uysal dengan sedikit gemeter ngomong ke Mr Erdogan "bro, seriyus deh bukan gw belain si Centikaya yah, tapi keknya doi bener deh bro kalau ini harus dinaikin suku bunga.". Tak berapa lama, Om Uysal dipecat.

Udah bingung kan, ini gubernur bank sentral kaga ada yang mau karena pada ga berani nentang Erdogan, akhirnya ditunjuklah Gubernur Naci Agbal. Langsung deh sama Wak Agbal gas naikin suku bunga. Eh ternyata it's works! Turkish Lira kembali menguat sedikit demi sedikit, inflasi mulai menurun. Tapi kembali lagi, Erdogan gak suka, yaudah pecaaaaaattt!!

Dari sini kita bisa mengambil hikmah bahwa: pemerintah dimanapun pasti ingin kredit murah, uang beredar banyak, pertumbuhan ekonomi tinggi, apalagi mendekati pemilu. Sudah jadi budaya negara demokrasi itu mah. Tetapi, semua itu ada "bayaran"nya.

Pemerintah itu pengin populis, pengin dikenal masyarakat bahwa dia presiden yang bisa ngasih harga murah, tetapi tetap saja dalam teori ekonomi, itu tidak baik, tidak bagus, harus ada suatu lembaga yang berani "ngerem" aksi imajinasi pemerintah yang populis ini. 

Itulah mengapa, bank sentral itu harus independen.
Semua ini sudah ada teorinya. Ada teori tentang "time-inconsistency problem" yang intinya pemerintah alias politisi itu PASTI tidak konsisten. Mereka itu pengin populer, pengin dikenal "mensejahterakan rakyat", makanya kadang punya imajinasi ngawur yang bertentangan dengan hukum ekonomi. 

Selain teori, juga ada bukti empiris. Di negara yang bank sentralnya itu terpisah dari pemerintah, kondisi ekonomi cenderung lebih stabil, inflasi bisa lebih terkontrol. Nih buktinya:


Kesalahan Turki adalah bank sentral itu masih ada dibawah kendali pemerintah. Padahal, Erdogan sendiri itu aneh. Dia menganggap suku bunga tinggi itu mother of evils sehingga menganggap yang menyebabkan inflasi itu justru suku bunga tinggi. Kan aneh banget, ini menentang teori ekonomi. Udah ga ngerti deh itu Erdogan habis dengerin podcast siapa dah.
Jadi bisa disimpulkan, permasalahan kenapa Turki bisa terpuruk adalah Erdogan itu sendiri.

Nah, Bank Indonesia itu sebenarnya pernah tidak independen, ada di bawah pemerintah seperti Turki. Hal ini yang menyebabkan Indonesia mengalami krisis ekonomi 98. Jadi, akar permasalahan krisis ekonomi 98 itu bukan karena konspirasi George Soros atau fakta tentang George Soros apapunlah itu, bukan konspirasi langkah pelengseran Pak Soeharto, bukan juga karena kebijakan Pak Soeharto, melainkan karena Bank Indonesia tidak independen sehingga tidak bisa "ngerem" Pak Soeharto.

Makanya waktu Pak Habibie menjabat, Bank Indonesia langsung dilakukan independensi, suatu lembaga yang terpisah dari pemerintah, namun juga bukan swasta. 
Semenjak itu, Bank Indonesia menjadi lebih berani dan selalu "ngerem" kebijakan ekonomi pemerintah. Itulah mengapa Bank Indonesia menjadi tidak populer karena kerjaannya itu meregulasi dan melarang.

Saya awalnya juga sebel sama Bank Indonesia!
Ya gimana gak sebel, dikit-dikit ngelarang, dikit-dikit denda...

Sebagai seorang pengamat dan praktisi ekonomi keuangan, saya melihat Bank Indonesia memang aaarrrrgghh banget.
Tetapi itu dulu.
Sekarang setelah saya sadar, ternyata Bank Indonesia itu memegang peranan penting untuk kestabilan ekonomi. Justru peran Bank Indonesia itu menjadi the real watchdog untuk kebijakan ekonomi pemerintah yang sangat inkonsisten dan populis. 

Tanpa Bank Indonesia yang independen, maka yang ada hanyalah ketidakpastian, seperti halnya Turki tadi. Padahal, dalam dunia bisnis tidak ada yang lebih dibenci kecuali ketidakpastian. Kebijakan gonta-ganti, pejabat ekonomi gonta-ganti, akhirnya keadaan ekonomi suatu negara pun juga tidak pasti yang akhirnya dibenci sama pebisnis.
Tanpa adanya bisnis, negara juga akan jadi cangkang kosong.

Jadi, terima kasihlah kepada Bank Indonesia yang menjaga kita semua.
Sekarang saya tidak sebel lagi, deh. Karena sekarang sebelnya sama OJK.

Ya gimana ga sebel, dikit-dikit ngelarang, dikit-dikit denda....