Halo, semuanya!

Kalian merasa gak sih kalau manusia itu makhluk yang aneh? Serius. Dari semua makhluk yang ada di bumi ini, yang paling nyusahin ya manusia juga. Bukan nyusahin doang sih, kadang juga kocak. Kita tuh binatang. Sumpah, klasifikasi ilmiahnya jelas banget; kingdom animalia. Tapi giliran dikatain “binatang”, langsung tersinggung. Langsung defensif, merasa lebih tinggi, lebih bermoral, lebih intelek. Padahal ya... kalau kita jujur, banyak binatang yang lebih punya akhlak dibanding manusia. Coba deh kamu liat seekor rusa. Dia makan rumput secukupnya, gak pernah nyetok 3 ton rumput buat musim depan terus buang-buang karena udah basi. Sementara manusia? Beli kulkas dua pintu, isinya makanan beku yang akhirnya dibuang karena expired. Siapa yang rakus?

Binatang gak pernah overthinking. Gak ada singa yang insecure karena surainya keriting. Gak ada zebra yang stres karena garis badannya gak simetris. Gak ada monyet yang nyari skincare buat ngilangin flek hitam. Manusia? Boro-boro. Baru liat story orang glowing dikit, langsung cari promo facial. Baru liat tren “glassy skin” di sosmed, langsung checkout serum yang harganya bisa buat bayar SPP di kampus swasta itu satu semester.

Lalu soal tempat tinggal. Coba pikir: singa gak pernah bayar sewa savana. Burung gak perlu beli tiket buat migrasi ribuan kilometer. Tapi kita? Lahir di planet ini aja udah langsung ditagih pajak. Lahir, disuntik. Besar, disuruh sekolah bayar. Dewasa, disuruh beli rumah, bayar listrik, bayar air, padahal air itu dari langit dan tanah yang katanya “milik negara”. Negara mana? Lah, tanahnya udah ada dari jutaan tahun sebelum negara itu berdiri. Absurd gak sih?

Belum lagi soal uang. Ini bagian yang paling kocak. Kita itu satu-satunya spesies yang stress karena angka yang kita cipta sendiri. Uang itu dari mana sih? Dari kesepakatan doang. Dulu sih masih ada emas. Sekarang? Duit digital, dompet digital, bahkan kripto yang harganya naik turun kayak mood kalian pas lagi menikmati panasnya Kota Semarang itu. Nilainya muncul karena kita setuju itu ada nilainya. Jadi ya... uang itu sebenernya angka halu yang kita sepakati rame-rame.

Tapi angka halu itu bikin kita bunuh-bunuhan, korupsi, tipu-tipu, bahkan kehilangan jati diri. Demi angka, kita rela kerja rodi, begadang, ngutang, jual tanah warisan, semua demi mempertahankan ilusi bernama “kesejahteraan”. Padahal bisa jadi, binatang yang hidupnya cuma makan, tidur, kawin, dan jalan-jalan di hutan lebih bahagia dibanding kita yang sibuk ngumpulin angka di rekening sambil terus merasa kurang.

Lebih lucu lagi, industri kita tuh banyak banget yang kerjaannya bikin masalah dulu, lalu jual solusi. Industri kecantikan misalnya. Pertama mereka bikin standar kecantikan absurd: putih, glowing, pipi tirus, hidung mancung, mata belo. Lalu masyarakat dicekoki iklan 24/7, diserang rasa tidak aman, dan akhirnya beli produk yang katanya bisa memperbaiki “kekurangan” mereka. Masalahnya siapa yang bikin? Mereka juga. Gila gak?

Liat aja makanan cepat saji. Kita dikasih gorengan dengan minyak dekil nan hitam, ultra process food, ayam goreng, soda, semua tinggi gula dan lemak. Lalu kita jadi gemuk. Abis itu? Tiba-tiba muncul industri gym, fitness influencer, minuman detox, diet keto, intermittent fasting, lari berbayar 5K-15K. Lari loh. Yang dulunya gratis, sekarang bayar, dikasih medali, dan tentu... feed Instagram. Udah gitu selesai race, makan junk food lagi. Sungguh, ini bukan ekonomi sirkular. Ini ekonomi sarkas-tikular.

Terus kita tuh makhluk paling takut mati. Padahal mati ya... udah aja gitu. Kayak tidur tapi gak bangun. Tapi kita sibuk banget mendebatkan kehidupan setelah mati, ngebikin ritual, peraturan, bahkan perang, semua karena ketakutan akan sesuatu yang belum tentu kita sadari ketika udah sampai sana. Ironisnya, sepertiga hidup kita juga dihabiskan untuk tidak sadar. Namanya: tidur. Tapi kita gak takut tidur, malah dinanti. Lucu kan?

Dan ada lagi keanehan manusia: hiburan dari rasa takut dan trauma. Film horor, thriller, dokumenter kriminal sadis; semua laku keras. Kita ngeluarin duit buat nonton penderitaan, kekerasan, bahkan tragedi. Kita bahkan bisa nangis dan bilang "filmnya dalam banget", padahal sumber "dalam"-nya adalah kisah nyata orang yang hidupnya hancur lebur. Kocaknya, makin serem dan makin gelap filmnya, makin dapet nilai seninya. Duh.

Tapi okelah, masalahnya ini nih, ada suatu hal yang bikin ekonom berdiri dan bersyukur: manusia punya otak yang menyukai sesuatu karena langka, bukan karena berguna. Scarcity effect, katanya. Berlian? Mahal banget. Padahal gak bisa diminum, gak bisa dimakan, gak bisa nyelametin kamu waktu kehausan. Air? Diabaikan. Bahkan ada yang jual air dalam kemasan harga Rp60 ribu, karena "sumber mata airnya dari pegunungan vulkanik prasejarah". Padahal kamu bisa masak air di dapur sendiri. Tapi ya... manusia lebih percaya pada label “rare” ketimbang “relevan”.

Jadi ya, kamu tanya aku: apakah manusia itu hewan paling mulia?

Aku sih jawab: mungkin, justru karena kita bisa menyadari betapa paradoksalnya kita. Kita absurd, tapi tahu kita absurd. Kita rakus, tapi kadang bisa insaf. Kita palsu, tapi bisa menangis tulus di tengah kepalsuan itu. Kita yang menciptakan masalah, lalu kita sendiri yang frustasi karena tidak bisa menyelesaikannya. Kita pahlawan dan penjahat dalam cerita yang kita tulis sendiri.

Dan dalam semua keanehan itu, mungkin justru di sanalah kemanusiaan kita: makhluk yang paling sadar bahwa dia gak pernah cukup, tapi tetap mencoba mencari arti dari semuanya.

Lucu ya.

Kadang tuh kita udah sadar loh, bener-bener sadar, bahwa hidup ini aneh banget. Absurd. Kayak, kamu barusan baca semua keanehan manusia yang tadi aku ceritain; tentang gimana manusia bisa menciptakan uang dari udara, gimana manusia rela bayar mahal demi diet padahal makanan sehat tinggal masak sayur, gimana kita takut mati padahal tidur aja tiap malam udah kayak mati kecil, dan kamu mungkin ketawa, senyum kecut, atau dalam hati bilang, "bener juga ya?"

Tapi... habis itu apa?

Besok pagi kamu tetap bangun, beli kopi latte favoritmu, buka email kerjaan, nungguin gaji turun, dan mikirin keranjang kuning yang mau kamu checkout. Tetap bayar listrik, tetap bayar sewa, tetap overthinking soal uang yang sebenarnya kita semua tahu cuma ilusi. Aneh kan? Kita tau kita jalan di treadmill absurditas... tapi kita juga gak berhenti jalan. Soalnya ya.... gimana lagi?

Dan ya, kita ini gak bisa dibandingin sama binatang liar. Jangan harap bisa jadi singa yang bisa nyantai di savana sambil ngeliatin zebra-zebra lewat. Atau burung yang tinggal terbang ke tempat lain kalau tempat tinggalnya udah kotor. Kita manusia bro, dan jadi manusia tuh mahal. Kita gak cuma makan dan tidur. Kita bikin jalan raya, bikin perumahan, pasang listrik, bikin sistem sanitasi, dan semuanya itu… butuh uang. Dan bukan karena bumi minta kita bayar tagihan PLN, tapi karena kita pengin survive. Pengin hidup lebih lama. Pengin nyaman. Pengin punya AC waktu kemarau, pengin bisa rebahan sambil nonton debat Ferry Irwandi yang bilang jurusan filsafat itu gak penting, tanpa harus takut diseruduk banteng, atau makananmu dicuri monyet.

Uang? Kripto? Token? Semua itu emang kesepakatan fiktif. Tapi justru karena itu, kita bisa hidup agak tertib. Kita bisa bikin harga, bikin sistem tukar-menukar, dan kerja bareng tanpa harus adu tinju atau Muay Thai di setiap pasar. Kalau enggak ada uang, ya rebutan. Siapa kuat dia dapat. Sistem barter? Halah, kebayang ribetnya. Tuker ayam demi kuota internet? Gak efisien.

Yang bikin kita stres tuh bukan uangnya. Tapi harga diri yang kita sandarkan ke atas uang itu. Kita ngukur nilai diri dari rekening. Ngerasa inferior kalau gaji lebih kecil. Padahal… ya itu angka. Itu fiksi yang kita bikin. Tapi efeknya nyata. Karena manusia itu, anehnya, adalah makhluk yang bisa tersiksa oleh hal yang bahkan tidak bisa disentuh. Kayak perasaan. Kayak kecemasan. Kayak utang KPR 25 tahun.

Dan industri? Ya ampun, ini juga lucu banget. Mayoritas industri kita itu bukan solusi dari masalah alamiah, tapi solusi dari masalah yang… diciptakan sendiri. Kamu bikin orang insecure sama kulit mereka, terus kamu jual serum pencerah. Kamu bikin orang obesitas lewat junk food, terus kamu jual program lari 5K berbayar yang dikasih medali dan foto buat pamer. Siklus absurd yang, parahnya, cerdas banget. Uang jalan. Semua senang.

Tapi eh, aku gak mau bilang ini semua jahat. Kadang tuh kekacauan ini lahir bukan dari niat jahat, tapi dari terlalu banyak manusia yang main pakai aturan sendiri. Semua pengin cuan, pengin survive, pengin relevan. Gak ada yang tulus-tulus amat, tapi juga gak semuanya culas. 

Kita semua cuma… trying to make sense of this mess we made.

Lalu soal kematian. Ini topik kesukaan filsuf dan penyair. Kita takut mati, bukan karena kematiannya, tapi karena rasa kehilangan. Kita gak pengin kehilangan waktu. Kehilangan kesempatan. Kehilangan orang yang kita cinta. Tidur tiap malam kita jalani dengan pasrah, padahal itu mirip-mirip mati: gak sadar, gak kontrol, gak bisa ngapa-ngapain. Tapi kita tahu ada bangun. Sedangkan mati? Yaudah. Game over. Gak ada credit roll, gak ada sequel.

Tapi ya itu, kita juga manusia. Makhluk yang anehnya malah menikmati rasa takut. Kita nonton horor. Kita nonton tragedi. Kita nangis di bioskop ngeliat orang diselingkuhi dalam film. Kita bahkan bayar untuk itu. Kita membayar untuk disakiti secara emosional. Dan entah kenapa… kita suka.

Kita suka hal yang langka. Kita suka scarcity. Tapi bukan karena kita bodoh. Tapi karena… ya itu, kita pengin merasa hidup ini punya makna. Dan salah satu cara merasa "berarti" adalah punya sesuatu yang gak dimiliki semua orang. Kayak cincin nikah. Kayak sepatu edisi terbatas. Kayak gelar, jabatan, pencapaian, likes di Instagram. Itu semua bukan kelemahan. Itu mekanisme bertahan. Supaya hidup gak cuma soal makan-kerja-tidur. Supaya ada alasan bangun pagi selain buat ngisi absensi.

Kita ini, pada akhirnya, adalah makhluk yang menciptakan dunia sendiri. Kita bikin sistem, bikin hukum, bikin moral, bikin kepercayaan, dan terus berusaha ngerti cara hidup di dunia buatan kita sendiri. Kadang kita ngerti, kadang kita bingung, kadang kita malah bikin makin rumit.

Tapi mungkin itu yang bikin kita spesial. Meskipun kita tahu kita aneh, kita tetap berjuang. Kita tetap bikin puisi. Tetap bikin lelucon. Tetap bikin lagu patah hati. Tetap jatuh cinta, walaupun tahu bakal patah lagi. Tetap kerja, walau tahu akan stres lagi. Tetap hidup, walau tahu ujungnya... ya mati.

Jadi, apakah manusia itu makhluk mulia?

Mungkin iya. Karena cuma manusia yang bisa bilang: aku ini aneh banget ya, sambil tetap jalan terus, dan tetep ngopi di pinggir jalan, ketawa-ketawa... walaupun besok masih harus bayar tagihan-tagihan hidupmu sendiri.

Dan pada akhirnya, ya begitulah kita: makhluk di Planet Bumi, yang secara biologis masih satu kerajaan sama ayam, gajah, ikan cupang, dan komodo. Iya, kita ini masuk animal kingdom, saudara-saudara. Kita hewan. Tapi hewan yang bisa ngitung pajak, bisa bikin video Youtube sambil debat eksistensial, dan bisa nulis lagu galau saat ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Hewan, tapi bisa bikin satelit, bisa main saham, bisa bikin filter wajah glowing padahal wajah aslinya... ya gitu deh.

Masalahnya, saking pintarnya, kita kadang lupa kalau kita masih bagian dari alam. Kita pikir kita di atas segalanya. Kita nyuruh binatang jangan liar, padahal kita sendiri gak bisa ngatur emosi kalau chat cuma dibaca doang. Kita merasa lebih tinggi karena bisa pakai dasi dan pakai Excel, tapi lupa bahwa kita juga bisa sakit, bisa panik, bisa nangis, dan... ya bisa mati juga. Sama aja.

Tapi memang, harus diakui: manusia ini unik. Kita bukan makhluk sembarangan. Kita punya akal, punya rasa, punya kemampuan untuk menciptakan makna dari hal-hal yang gak kelihatan. Kita bisa ngebayangin masa depan. Bisa nyusun rencana ribuan tahun ke depan buat kolonisasi Mars, tapi juga bisa panik gara-gara hp ilang tersembunyi di bawah kasurmu.

Dan mungkin... justru karena keunikan itu, kita dikasih amanah yang berat: memelihara bumi. Bukan ngerusak. Bukan nguras. Bukan ngebakar hutan demi panen likes. Tapi ya, pelan-pelan, kita belajar. Belajar hidup. Belajar gagal. Belajar tertawa di tengah absurditas hidup yang kadang kayak komedi ini.

Karena satu hal yang gak bisa dibantah: betapa pun kita kacau, kita adalah satu-satunya makhluk di bumi yang bisa ngaca, lalu bilang:

“Gila ya... hidup ini aneh banget, tapi yaudah lah… kita jalan terus.”

Dan itu... spesial.

Ya gak?