Isu mengenai UKT sempat menjadi perbincangan yang sangat ramai, baik di lingkungan mahasiswa, orang tua mahasiswa, teman mahasiswa, dan alumni mahasiswa. Memang, masalah UKT yang semakin naik ini menjadi momok yang cukup berat, seolah-olah perguruan tinggi menjadi semakin ekslusif dan hanya bisa diraih oleh orang-orang yang cukup berprivellege.

Bahasan mengenai kenaikan UKT ini menjadi topik yang sangat hangat hingga mantan karyawan Gojek, Pak Nadiem Makarim (ya bener kan?), bersuara terhadap ini. Akhirnya, Pak Nadiem memutuskan agar kenaikan UKT ini enggak jadi, alias ditunda. Ingat ya, ditunda. Bukan dibatalkan.

Kericuhan isu mengenai UKT ini menimbulkan banyak masyarakat membutuhkan penjelasan dari pemerintah dengan membawa satu pertanyaan besar "Apakah UKT sebenarnya perlu naik?". Nah, masalah kenaikan UKT malah menjadi melebar gara-gara salah satu pegawai pemerintah mengatakan bahwa pendidikan tinggi itu adalah pendidikan tersier. Bukanlah pendidikan yang utama. Akhirnya? Ricuh satu negara!
 
Banyak yang mengkritisi hal ini:
"Oh pantes aja negara kita ga maju-maju. Pendidikan tinggi aja dibilang tersier!"
"Contoh memelihara kebodohan rakyat!"
"Gimana negara ini bisa maju jika pendidikan saja tidak diperhatikan?"
"Pendidikan tinggi tersier? Lah, sekarang daftar kerja aja harus lulusan S1!"
dan komentar pedas lain, dimana dari banyaknya komentar membawa ke dalam suatu kesimpulan "Sebenarnya, pemerintah tuh peduli sama pendidikan gak sih?! Kok bisa pendidikan perguruan tinggi itu dikatakan tersier?"

Saya telah berusaha membaca berbagai artikel dan media masa mengenai ini. Saya juga mengamati baik dan buruk tentang perguruan tinggi yang dianggap tersier dan berusaha memahami maksud dari pegawai tersebut "Mengapa pendidikan tinggi itu dikatakan tersier?". Dengan sangat terpaksa, saya menyatakan bahwa saya setuju jika pendidikan tinggi adalah jenis pendidikan tersier! 

Tenang! Jangan ngamuk dulu. Saya jelaskan alasannya.

Di dunia yang luas ini, jumlah penduduknya buanyaaakk sekali. Bermilyar-milyar manusia di seluruh dunia yang saling terhubung satu sama lain. 
Nah rata-rata, di seluruh dunia ini, orang-orang hanya mengenyam pendidikan formal selama 8 tahun! Itu  berarti, rata-rata orang hanya mengenyam sampai tingkat maksimal SMP saja! Itupun belum lulus SMP karena untuk sampai ke SMP membutuhkan 9 tahun.

Orang yang lulus SMP itu menjadi rata-rata di INDONESIA! Begitu juga dengan negara Nigeria. Biasa, tipikal negoro miskin. Kalau ada yang bilang Indonesia adalah negara yang kaya, tidak kawan. SDA kita kaya? Lah, arti dari kekayaan adalah sumber daya yang kita miliki dan bisa kita kuasai atau manfaatkan. Memang seberapa maksimal kita bisa memanfaatkan SDA? Hanya sebatas tanam ubi lalu tidak perlu dipupuk dan tunggulah sampai panen, toh? Tapi pernah tidak, bikin teknologi yang fit dengan kesuburan tanah Indonesia ini hingga tanam padi dan bisa panen hanya dalam waktu 1 bulan tanpa merusak alam? Enggak, kan?

Balik ke topik.
Kalian bisa melihat data di bawah ini:
 
Negara maju yang GDPnya tinggi seperti Jepang dan Amerika itupun, rata-rata penempuhan pendidikan formal hanya sampai D2. Yah, sekilas diploma aja.
Kok bisa? Yah memang faktanya begitu kok!
Jadi, jangan dikira jika negara maju seperti Jepang dan Amerika itu semua penduduknya menempuh pendidikan tinggi! Tidak, bahkan lulusan perguruan tinggi menjadi minoritas di sana karena rata-rata lulusan diploma atau akademi.

Lagian, kalau mau disambungin dengan kasus UKT, perguruan tinggi di Amerika justru lebih ugal-ugalan mematok student fees, bahkan hingga muncul tren student loan di sana. Tak heran, jika ada istilah Ivy League, alias perguruan tinggi khususon wong sugeh.

Mengapa demikian?
Karena progress pendidikan di tiap negara pun beriringan dengan progress pada sektor lain. Tidak bisa langsung "kita harus fokus ke pendidikan!", lha terus sektor ekonomi yang lain gimana? Memang ente mau bermiskin-miskin selama 20-30 tahun? Return dari "investasi" pendidikan itu selama minimal satu generasi, lho! Artinya, jika pemerintah benar-benar fokus dana APBN ditaruh ke pendidikan, maka manfaat dari alokasi dana APBN tersebut baru kerasa manfaatnya paling cepat 20 tahun kemudian.

Jadi, kalau kalian berpikir pemerintah harus alokasi mayoritas dana APBN ke pendidikan, maka kalian juga harus mau hidup tanpa teknologi canggih dan siap-siap makan tiwul sebagai makanan pokok tiap hari. Enggak ada seblak, enggak ada takoyaki, enggak ada lagi ice tea with squeezed orange. Enggak ada! Ekonomi bakal lesu mati-matian namun anak-anak kalian bisa sekolah sampai kuliah 100% gratis dan ketika mereka udah lulus, maka mereka generasi pertama yang memecahkan rekor menjadi sandwich generation terbanyak di dunia.

Jadi, janganlah marah-marah dulu. Amerika yang GDP per kapitanya berkali-kali lipat saja rata-rata cuma 14 tahunan kok. Kenapa kita, yang GDP per kapitanya tidak ada apa-apanya, dengan status negara yang overpopulasi ini tiba-tiba berharap semua penduduknya harus minimal sarjana?

"BIAYA KULIAH HARUS MURAH BAHKAN KALAU BISA GRATIS!"

Rata-rata GDP per kapita di dunia saat ini adalah US$12.000, sedangkan kita kurang dari US$6000. Lah, dengan rata-rata GDP per kapita seperti ini kok ngarep kualitas pendidikan setara negara maju yang GDPnya lebih dari US$12.000. Ya jelas tidak mungkin. Mau dari kacamata manapun, jelas ini tidak mungkin.

Ingat, investasi pendidikan itu jenis investasi termahal dengan return terlama.

Dipikir, biaya kuliah dari kampus PTN itu pakai apaan? Segala biaya-biaya yang timbul di PTN itu menjadi tanggungan negara. Namun sayangnya, tidak semua bisa dicover negara. Kenapa? Ya karena APBN enggak cukup. Kembali lagi, memang kalian mau harus makan tiwul dan say goodbye sama seblak yang kalian idam-idamkan itu? Kalau masih tidak setuju dengan statement ini, maka silahkan hidup dengan makan apa yang kamu tanam, bukan yang kamu beli. Modyaaarr!

Lah terus, kenapa dana APBN kita enggak cukup? Konsep tentang penerimaan negara sudah pernah saya bahas di sini. Penerimaan pajak kita itu enggak maksimal. Lha gimana mau maksimal jika orang-orangnya banyak yang kere. Mau dipatok pajak tinggi juga tidak mungkin, pasti banyak yang demo. Pajak industri? Ah enggak seberapa, negara kita bukan negara industri.
 
Lagian, biaya operasional kampus sudah tidak bisa lagi disamakan seperti dulu. Ada faktor inflasi yang membuat biaya operasional semakin tinggi dari tahun ke tahun. Belum lagi, mahasiswa kampus semakin banyak karena akses ke pendidikan tinggi semakin mudah. Padahal, subsidi dari pemerintah ya segitu-gitu aja. Sudahlah, kita itu perlu menyadari jika negara kita masih kere, belum sekaya itu pemerintah bisa memberikan subsidi pendidikan untuk semua orang. Gratisin sekolah dari SD sampai SMA itu sudah poin plus dan achievement banget buat kualitas pendidikan kita karena 40 tahun yang lalu, Indonesia masih menjadi negara yang unlitterate atau buta huruf.

"KALAU BUKAN PENDIDIKAN, TERUS APA YANG MEMBUAT NEGARA KITA MAJU?"

Pada waktu Jepang terkena bom atom oleh sekutu di Hiroshima dan Nagasaki, kalimat pertama yang keluar dari mulut Sang Kaisar adalah "berapa banyak guru kita yang selamat?". Dari sini, kita bisa melihat pentingnya pendidikan bagi kemajuan bangsa. Kita juga bisa melihat negara yang terbelakang namun saat ini menjadi salah satu pemimpin ekonomi global, seperti Singapura dan Korea Selatan. Apa tipsnya? Pendidikan!

Namun, ada hal yang harus kita pertanyaan ulang di dalam diri kita: "sebenarnya, kita tuh butuh pendidikan atau ijazah?".
Jika saya mengamati, mayoritas orang tidak peduli dengan pendidikan, mereka hanya peduli dengan ijazah. Orang yang niat belajar itu sudah langka sekarang. Itulah mengapa banyak joki skripsi dan joki tugas, karena memang banyaknya orang yang sebenarnya tidak peduli dengan output menjadi pintar.

Kondisi seperti ini akan menjadi bunuh diri jika pendidikan kita gratiskan, atau murah. Ijazah tidak lagi dihargai oleh pemberi kerja saking banyaknya orang bisa kuliah. Terlebih, banyak perguruan tinggi yang mempermudah mahasiswanya buat lulus berIPK tinggi, bukan berkemampuan tinggi. Mengapa perguruan tinggi mempermudah lulusannya? Balik lagi, karena mahasiswanya sendiri tidak peduli dengan output menjadi pintar, yang penting ijazahnya. Jika 90% mahasiswa berpikiran begini, lalu pihak perguruan tinggi "mempersulit", ya kali yang lulus hanya 10% doang?

Terlebih, ketika kita membicarakan PTN yang semakin ke sini diberikan banyak bantuan, membuat PTN menjadi semakin terjangkau. Belum lagi, perguruan tinggi swasta lain yang diberikan "kesempatan" untuk berdiri meskipun akreditasi C. Apa dampaknya? Lulusan sarjana jadi tidak spesial. Banyak yang bisa kuliah sarjana karena pendidikan tinggi semakin terjangkau. Akibatnya, banyak orang yang sebenarnya tidak niat belajar, tetapi karena demi melamar kerja, dia harus berkuliah dan lulus sarjana. Efek domino seperti ini semakin banyak mencetak sampah akademik yang semakin kental dengan kalimat "udah sarjana, tapi tidak bisa apa-apa."
 
Padahal, sarjana itu diciptakan menjadi makhluk yang akademis. Setidaknya, kalau ngomong berdasarkan data bukan hanya asal jeplak dan trust me bro. Makanya ada skripsi. Kalau tidak mau diciptakan sebagai makhluk yang akademis, maka pilihlah vokasi. 

"TERUS GIMANA, DONG? SEKARANG AJA DEMAND DUNIA KERJA BUTUHNYA SARJANA, BUKAN VOKASI BAHKAN LULUSAN SMA AJA!"

Sebenarnya, apabila di rata-rata keseluruhan negara, kita itu tidak kebanyakan orang lulusan S1. Masih kurang, sangat kurang meskipun banyak lulusan S1 yang tidak ada bedanya dengan lulusan SMA. Lantas, kenapa masih banyak lulusan S1 yang susah cari kerja? Karena memang lowongan untuk S1 itu sedikit, sangat sedikit. Ditambah, sedikitnya lowongan kerja ini, perusahaan nemunya orang-orang tidak jelas yang tidak bisa apa-apa, namun gelarnya sarjana. Mau direkrut, takutnya malah jadi beban, tidak direkrut tapi ya butuh karyawan.

Bisa jadi, kita sebenarnya terkena bias karena lowongan di Jobstreet, LinkedIn, Kalibrr, dan job portal lain kebanyakan kerja kantoran di perusahaan formal. Padahal, ketika saya membaca jurnal atau skripsi mahasiswa yang mengangkat tema UMKM, hampir semuanya mengatakan "sektor yang berkontribusi terbesar pada perekonomian negara bukanlah perusahaan atau korporasi besar, melainkan sektor UMKM". Bisa jadi, di luar sana banyak UMKM yang membutuhkan banyak pekerja. Jangankan harus lulusan SMA, dapat orang yang baik dan jujur aja sudah syukur banget.

Tetapi, UMKM sekarang pun juga banyak yang syarat minimal harus S1 dan trennya sudah ke situ.
Disinilah peran pentingnya regulasi pemerintah. Pentingnya menekan agar lowongan kerja ke skill yang spesifik dengan requirement tertentu, tidak harus lulusan S1. Karena jika saya mengamati, banyak banget pekerjaan yang sebenarnya skill based. Hal ini yang membuat mengapa kelas-kelas bootcamp sangat menjamur. 

Itulah mengapa saya mengatakan, lulusan sarjana itu harusnya bersifat akademis, sedangkan pekerjaan kebanyakan skill based, hanya memerlukan satu skill tertentu. Sarjana itu diciptakan untuk melihat fundamental dari kondisi secara lebih luas dan general; berbagai orang skill based. Jika seorang sarjana untuk direkrut menjadi orang yang ngurus pembukuan aja, lebih baik rekrutlah orang lulusan vokasi, kecuali jika pemberi kerja membutuhkan seorang yang bisa ngurus lebih dari satu orang vokasi yang ngurus pembukuan. Tetapi kenyataannya? Sarjana tidak punya skill bagaimana mau mengurus hal yang bersifat fundamental? 


"JADI, BAGAIMANA AGAR KITA MENJADI NEGARA YANG MAJU?"

Di dunia ini, ada sekitar 200 negara. Dari 200 negara tersebut, Indonesia sempat menjadi negara termiskin nomer 4. Bayangin aja jadi negara termiskin nomer 4 di dunia. Tetapi, pada tahun 2022, Indonesia menjadi nomer 73 negara termiskin di dunia. Ini sudah cukup bagus menurut saya.

Namun, sayangnya kita itu sering berhalusinasi dengan membandingkan negara kita dengan negara lain yang urutan 10 besar negara terkaya. Ya jelas kalah. Padahal sudah jelas sekali bahwa ada lebih dari 100 negara yang lebih kaya dibandingkan kita.
Jadi, kalau mau membanding-bandingkan negara, bandingkanlah dengan yang satu level.

Itu dulu yang pertama.
Lalu yang kedua, saya sangat setuju jika pendidikan merupakan pilar termanjur untuk menjadi negara yang maju. Namun, investasi di pendidikan dengan sistem yang sangat bobrok pun nantinya akan jadi investasi bodong. Saya mengatakan sistem pendidikan bobrok itu bukan dari lembaga pendidikannya, tetapi lebih ke orang-orangnya. Karena saya, kalian, dan kita semua pun juga merupakan bagian dari sistem pendidikan. Saya pernah membahasnya di sini.

Sekarang, kalau mau pendidikan dibikin murah, pemerintah udah jor-joran bantu lembaga pendidikan agar semua orang dapat mencapai perguruan tinggi. Lah tapi, ada oknum yang cukup brengsek ngomong "udahlah, kuliah yang penting lulus dan dapet ijazah". Bahkan juga banyak orang tua yang memiliki pemikiran seperti itu. Apa akibatnya? Terciptalah orang yang bergelar tapi tidak punya skill. Maka pantas jika banyak yang jadi NEET (Not in Education, Employment, and Training).
 
Jadi, jika kalian mau pemerintah benar-benar fokus pada pendidikan, maka pastikan juga bahwa kita semua tidak ada yang memiliki pemikiran bahwa pendidikan itu hanya mencari ijazah. Semua orang ingin negara kita maju, tapi anehnya, tidak semua orang ingin memulainya.

Bagi saya, sekolah pada tingkatan primer (SD - SMP) dan sekunder (SMA) itu sudah cukup menjadi bekal hidup. Kita itu masih bingung mau ke arah padat karya atau padat modal, dan sejauh ini, usaha dengan padat karya masih lebih banyak di Indonesia dibandingkan padat modal. Apabila menginginkan ke pendidikan tinggi, maka sejatinya saya lebih setuju jika diisi oleh orang-orang yang memang niat dan ingin gaining skill, bukan yang penting asal dapat ijazah dan perkuliahan di isi dengan joki tugas maupun joki skripsi. Hal kayak gini juga yang bikin kebanyakan lulusan S1 menjadi syarat minimum di perusahaan formal.
Selama mindset tentang pendidikan masih salah kaprah, selama itu pula saya masih setuju bahwa pendidikan tinggi bersifat tersier.

Salam!