Saya Membela Rahwana (dan Menggugat Rama)
Sejak kecil kita dijejali kisah Ramayana sebagai dongeng tentang kebaikan yang mengalahkan kejahatan. Rama dipuja sebagai titisan dewa, Rahwana dikutuk sebagai raksasa angkara. Namun semakin dewasa, saya justru bertanya: benarkah Rama sepenuhnya pantas dipuja, dan Rahwana layak dicaci? Sepertinya, para orang tua juga tidak ada yang menamai anaknya "Rahwana". Kalau nama anak "Rama" itu banyak sekali dengan harapan-harapan orang tua yang baik pula karena ingin sifat-sifatnya Rama turun ke anaknya. Padahal, Rama adalah ciri cowok redflag. Itulah mengapa......
......saya memilih berpihak pada Rahwana.
Rama adalah sosok yang hari ini akan dengan mudah masuk kategori toxic man. Istrinya diculik, dan alih-alih segera menjemputnya, ia membiarkan Sinta ditawan selama dua belas tahun. Dua belas tahun bukan waktu yang singkat. Jika cinta benar-benar mendesak, bukankah seharusnya nyawa pun tak jadi soal?
Dua. Belas. Tahun.
Itu kalo didetailkan lagi udah setara dengan seorang bocil lulus SMP (kalau dimulai dari kelas 1 SD). Lama banget. Jika di Ayodhya (fyi, Ayodhya adalah ibukota dari Kerajaan Kosala) ada bocil sedang menempuh kelas 1 SD dan bertepatan pada waktu itu Sinta sedang diculik... maka perang Ramayana itu ketika bocil itu sudah mau masuk SMA! Sudah melalui fase pubertas dan siap untuk memilih jurusan umum atau kejuruan, IPA atau IPS, elektro atau mesin. Haduh!
Perang besar Ramayana, bagi saya, bukan perang cinta, melainkan perang gengsi. Rama memang tidak ingin kehilangan Sinta, tapi lebih tidak ingin kehilangan harga dirinya sebagai laki-laki dan raja. Ia menang bukan karena kekuatannya sendiri, melainkan karena bantuan Hanuman dan pengkhianatan Wibisana. Dalam istilah kekinian: Rama dapat kill karena assist, namun bertingkah seolah pahlawan tunggal.
Kalau kalian player Mobile Legend, pasti tidak asing dengan istilah "player nyampah". Di mana, ketika player lain berusaha ngekill pemain lawan, eh player yang lain tiba-tiba masuk di saat health indicator lawan udah tipis dan player yang berusaha ngekill tadi lagi cooldown skillnya. Nah, karena player yang baru ini tiba-tiba masuk (dan kondisinya fresh juga), maka powernya lebih unggul dan bisa ngekill lebih mudah. Nah, itulah Rama! Ketika Rahwana capek dikeroyok dengan bangsa kera, apalagi habis kena hantaman skillnya Hanuman, Rama tiba-tiba masuk dari belakang dan memanah dari kejauhan.
Ironisnya, setelah Sinta kembali, Rama justru meragukan kesuciannya. Ia memaksa Sinta membakar diri untuk membuktikan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dibuktikan. Api menjadi saksi, bukan karena Sinta bersalah, melainkan karena Rama tidak mampu percaya. Aneh, mbok ya sudah to kan pengin Sinta kembali. Kok malah mencurigai? Dikira Rama selama 12 tahun tidak melirik perempuan lain kah? Selama 12 tahun itu, bagaimana dia memenuhi hasrat biologisnya? Ah, Rama ini memang redflag!
Lebih kejam lagi, saat Sinta hamil, Rama kembali meragukannya dan membuangnya ke hutan. Seorang perempuan yang telah melalui penculikan, perang, pengasingan, dan api, masa masih harus menanggung tuduhan dari lelaki yang mengaku mencintainya. Jika ini disebut cinta, maka cinta macam apa itu? Ironisnya, Rama itu sebenarnya percaya aja kalau anak yang dikandung Sinta itu anak kandungnya Rama. Tapi, Rama lebih mendengarkan keluhan dan tuduhan rakyatnya dibandingkan pasangannya sendiri. Iya sih, namanya raja memang harus politis ya, tapi you know lah Kerajaan Kosala kan berbentuk pemerintahan kerajaan gitu, bukan demokrasi. Ya ngapain sih harus menjaga citra begitu? Emang tiap 5 tahun sekali harus diadakan pilraj lagi?
Bandingkan dengan Rahwana.
Selama dua belas tahun menawan Sinta, Rahwana tidak pernah menyentuhnya. Ia kasar kepada dunia, namun lembut kepada perempuan yang dicintainya. Ia bukan mengejar tubuh Sinta, melainkan bayangan Dewi Setyawati yang menitis padanya. Dalam diam dan amarahnya, Rahwana justru menunjukkan pengendalian diri yang tidak dimiliki Rama.
Kasmaran memang kerap membalikkan watak seseorang seratus delapan puluh derajat. Rahwana adalah buktinya. Bahkan dalam 12 tahun patah hatinya (karena dia tidak mampu membuat Sinta mau membalas cintanya), Rahwana menjadi raja yang bijaksana dan memperindah kerajaannya. Dibuatlah jalan-jalan menjadi besar dan cantik, lalu membuat taman-taman bunga. Itulah patah hatinya Rahwana!
Kematian Rahwana, Kumbakarna, dan saudara-saudaranya menjadi sia-sia ketika perang dimenangkan lewat tipu daya dan pengkhianatan. Wibisana, adik yang membocorkan rahasia negeri sendiri, diberi mahkota. Pengkhianatan dilegitimasi selama berpihak pada “yang benar”.
Namun bahkan setelah perang usai, penderitaan Sinta tidak berhenti. Ia kembali kepada Rama bukan sebagai istri, melainkan sebagai tersangka. Di sinilah Ramayana memperlihatkan wajah patriarkinya dengan telanjang: perempuan menjadi simbol kehormatan, bukan manusia yang dipercaya.
Jika saya adalah Sinta, saya akan menolak menjadi alasan perang.
Saya akan memilih menghentikan darah sebelum tumpah, memilih diplomasi alih-alih pembuktian maskulinitas. Bahkan, saya akan memilih Rahwana, lelaki yang mencintai tanpa menguasai dibanding Rama yang mengklaim cinta sambil menuntut pembuktian. Bahkan 12 tahun loh! Ngapain aja ini suami woy?!
Maka, saya membela Rahwana.
Bukan karena ia tanpa dosa, melainkan karena dalam kisah ini, justru sang “penjahat” yang paling tahu cara menghormati perempuan.
Rama adalah Sebenar-benarnya Cowok Red Flag
Mari kita jujur, tanpa embel-embel “titisan dewa”, Rama itu cowok red flag. Red flag tingkat nasional. Bahkan internasional, mengingat Ramayana dibaca lintas negara. Kalau Rama hidup di zaman sekarang, dia sudah jadi bahan thread panjang di Tiktod dengan judul, “Ciri-ciri Cowok Green di Luar Tapi Red Toxic di Dalam.”
Rama itu tipe laki-laki yang kelihatannya kalem, tutur katanya halus, auranya bersih, tapi begitu ada masalah, dia menghilang. Istrinya diculik, dan reaksinya bukan panik, bukan nekat, bukan “gue kejar sekarang juga.” Tidak. Rama memilih diam, menunggu, dan menyusun rencana seolah waktu tidak ada artinya. Dua belas tahun, Bung. Dua belas. Tahun.
Tapi anehnya, pembiaran ini justru dibingkai sebagai kebijaksanaan. Kalau cowok lain ngilang setahun aja, sudah dicap ghosting. Rama ngilang dua belas tahun, malah dibilang ksatria penuh perhitungan. Hebat sekali cara mitologi membungkus kelalaian jadi kebajikan. Coba deh kamu hey para wanita, ketika cowokmu tiba-tiba ngilang sebulan aja deh, panik gak? Pasti juga mikirnya langsung cari cowok lain kan ente karena dikira cowok yang ini tidak effort?! Terus kenapa kalian memuja Rama yang membiarkan Sinta selama DUA BELAS TAHUN?!
Rama ini tipe cowok yang selalu punya justifikasi intelektual untuk kelakuan brengseknya. Ia tidak segera menjemput istrinya karena “dharma”. Ia tidak percaya istrinya karena “omongan rakyat”. Ia membuang istrinya karena “tanggung jawab sebagai raja”. Semua kesalahan pribadi disulap jadi beban moral. Padahal kalau ditarik benang merahnya, satu saja kata kuncinya: ego.
Rama tidak ingin kehilangan Sinta. Tapi lebih dari itu, ia tidak ingin kehilangan citra. Citra sebagai lelaki suci. Sebagai raja sempurna. Sebagai standar moral semesta. Maka setiap keputusan yang ia ambil selalu bertanya: “Gue kelihatan keren nggak?” bukan “Istri gue aman nggak?”
Dan di sinilah red flag itu berkibar paling indah.
Begitu Sinta kembali, Rama tidak memeluk, tidak percaya, tidak menenangkan. Yang pertama muncul justru kecurigaan. Seolah-olah penculikan itu bukan tragedi, tapi auditing gitu. Seolah Sinta pulang membawa laporan yang harus diverifikasi. Maka muncullah ide paling brengsek tapi dikemas sakral: bakar diri.
Ini bagian yang kalau dipikir pakai akal sehat, harusnya bikin orang banting kitab. Rama menyuruh istrinya masuk api untuk membuktikan kesetiaan. Bukan karena bukti kurang, tapi karena ia butuh legitimasi. Ia ingin dunia melihat: “Ini bukan salah gue kalau nanti gue masih ragu.” Cowok red flag klasik: nyakitin dulu, lalu ngaku korban keadaan.
Dan setelah semua itu, setelah api, setelah pembuktian, setelah drama kosmik yang berlarut-larut, Rama masih saja tidak puas. Sinta hamil, dan kecurigaan kambuh lagi. Di titik ini, Rama sudah bukan red flag lagi. Dia sirine bahaya. Karena alih-alih introspeksi, ia memilih jalan paling pengecut: membuang masalahnya.
Cowok red flag selalu begitu. Kalau situasi tidak bisa ia kendalikan, ia akan pergi sambil membawa dalih moral. Rama membuang Sinta sambil tetap memelihara citra kesucian. Hebat sekali. Istri dibuang, reputasi aman.
Yang bikin saya makin muak adalah betapa banyak orang tetap membelanya. “Rama terpaksa.” “Rama korban tekanan publik.” “Rama kan raja.” Lah, sejak kapan jabatan jadi alasan buat jadi manusia yang penuh siasat bajingan? Sejak kapan sandang gelar 'Raja' bisa menjadi alasan untuk berbuat bangsat?
Kalau Rama tidak ganteng, tidak titisan dewa, dan tidak jadi raja, perilakunya akan langsung terbaca apa adanya: manipulatif, posesif, tidak percaya pasangan, dan selalu menjadikan perempuan sebagai alat pembuktian harga diri. Tapi karena wajahnya simetris dan kisahnya ditulis dengan nada agung, semua dosa itu luntur.
Rama adalah bukti bahwa red flag paling berbahaya adalah yang dibungkus moralitas. Yang ngomongnya lembut, tapi tindakannya kejam. Yang merasa paling benar, tapi tak pernah mau salah. Yang menyebut cintanya suci, tapi selalu menuntut korban.
Maka kalau hari ini masih ada yang bilang Rama itu pasangan ideal, saya cuma bisa geleng kepala.
Dan kalau masih dibela juga, ya wajar.
Dari dulu, cowok red flag memang selalu punya penggemar, kan?
Kasihan Hanoman
Kalau dipikir-pikir, tokoh paling kasihan dalam Ramayana itu bukan Sinta doang. Ada satu lagi yang sering lolos dari simpati: Hanoman. Si kera sakti yang kebanyakan orang ingat cuma sebagai “yang bakar Alengka”. Padahal, kalau dibaca pakai empati, Hanoman itu pahlawan yang salah alamat. Salah pilih orang yang dibela. Salah percaya bahwa perang ini punya akhir bahagia.
Bayangin jadi Hanoman.
Dia berangkat perang bukan karena ambisi, bukan karena tahta, bukan karena ingin dikenang sejarah. Dia ikut karena percaya. Percaya sama Rama. Percaya bahwa yang dibelanya adalah kebenaran. Percaya bahwa setelah semua darah dan bangkai berserakan, semuanya akan baik-baik saja.
Dan jujur saja, Hanoman ini tipe pejuang tulus tapi agak naif. Disuruh nyebrang lautan, dia nyebrang. Disuruh cari Sinta, dia cari. Disuruh bakar kota, dia bakar. Tidak banyak nanya. Tidak banyak mikir. Pokoknya gas. Kayak relawan yang percaya slogan tanpa baca syarat dan ketentuan.
Begitu perang selesai dan Rama menang, Hanoman mungkin ngerasa: “Oke, kelar. Good job, gue cabut.”
Dia balik ke gunung, bertapa, menyepi. Karena bagi Hanoman, tugasnya sudah tuntas. Sinta sudah kembali. Rama sudah menang. Dunia harusnya damai.
Nah, di sinilah letak tragedinya.
Karena ternyata, perang cuma selesai buat Rama. Bukan buat Sinta. Dan jelas bukan buat Hanoman juga meskipun dia belum sadar waktu itu.
Begitu kabar tentang Sinta sampai ke telinga Hanoman soal api penyucian, soal kecurigaan, soal rakyat yang ribut soal “kesucian”, di situ Hanoman mulai ngerasa kayak orang yang baru sadar ditipu. Kayak orang yang baru baca berita lanjutan setelah share postingan hoaks gitu.
“Lah,” mungkin begitu reaksinya, “gue perang mati-matian buat apa?”
Kasihan Hanoman. Dia ikut menghancurkan satu kerajaan, tapi tidak bisa melindungi satu perempuan dari penghinaan. Dia bisa melawan raksasa, tapi tidak bisa ngelawan ego Rama. Dan yang lebih pahit: semua itu dilakukan atas nama cinta dan dharma; dua kata yang ternyata fleksibel banget kalau dipakai buat nyakitin orang.
Yang bikin Hanoman makin apes, Rama itu jago banget lepas tangan. Begitu situasi ribet, langsung pakai kartu sakti: “Ini kehendak rakyat.” Padahal yang dibuang istrinya sendiri. Padahal yang disuruh masuk api bukan rakyat, tapi Sinta.
Hanoman, yang mungkin selama ini mengira dirinya pahlawan, akhirnya sadar satu hal yang menyakitkan: dia cuma alat. Alat untuk memastikan Rama terlihat gagah, menang, dan tetap bersih. Semua noda moral dilempar ke tubuh perempuan dan dalih politik.
Dan coba bayangin betapa absurdnya posisi Hanoman. Dia masih hidup setelah Ramayana. Dia lihat kisah lain. Mahabharata. Drupadi. Perempuan lagi. Dijadikan taruhan. Dipermalukan. Hampir ditelanjangi. Polanya sama. Yang ganti cuma judul cerita dan nama tokohnya.
Di titik itu, wajar kalau Hanoman kapok perang.
Dia sadar: perang bukan alat keadilan. Perang cuma alat legitimasi. Yang menang dipuja, yang kalah dikutuk, dan perempuan... yah seperti biasa... jadi collateral damage. Sementara cowok-cowok berwajah heroik tetap dielu-elukan, meskipun kelakuannya problematik.
Kasihan Hanoman, karena kesadarannya datang terlambat.
Kasihan, karena dia terlalu setia pada narasi.
Kasihan, karena dia percaya Rama adalah pusat kebenaran, padahal Rama cuma pusat cerita.
Dunia memang suka menjebak orang baik untuk membela orang salah.
Jadi...
Saya tetap membela Rahwana!



0 Komentar