Apakah Seseorang Harus Menikah?: Sebuah Kajian Ekonomi

Halo semuanya! 

Sebelum kita membahas apakah seseorang harus menikah atau tidak, saya rasa ada baiknya kita membahas sesuatu yang jauh lebih bikin puyeng terlebih dahulu: Badan Pusat Statistik. Apalagi saat ini sedang rame banget dibicarain!

Karena menurut saya terlalu banyak keputusan hidup besar dibuat hanya berdasarkan perasaan. Mau beli rumah pakai perasaan, mau resign pakai perasaan, mau punya anak pakai perasaan, mau menikah juga pakai perasaan. Padahal negara ini sudah susah-susah punya BPS, sudah susah susah nyekolahin orang di STIS. Kemudian oprec banyak orang untuk mendatangi ratusan ribu rumah tangga, orang ditanya pengeluaran berasnya berapa, listriknya berapa, kerjanya apa, sekolah sampai mana, punya jamban atau tidak, kondisi atap bagaimana, dan entah berapa banyak petugas statistik itu yang harus mendengarkan jawaban bapak-bapak yang sebenarnya sederhana tetapi kalau ditanya satu pertanyaan bisa menjawab dari zaman Orde Baru. Masa setelah semua pengorbanan itu kita mengambil keputusan sebesar pernikahan hanya berdasarkan, “Kayaknya dia orangnya deh.” Hadeeeeehhh~


Pada Agustus 2025, BPS mencatat rata-rata upah buruh di Indonesia sekitar Rp3,33 juta per bulan. Kalau dibedah lagi, rata-rata upah buruh laki-laki sekitar Rp3,59 juta, sedangkan perempuan sekitar Rp2,86 juta. Di perkotaan rata-ratanya sekitar Rp3,62 juta, sementara di perdesaan sekitar Rp2,58 juta.

Angka ini menurut saya perlu kita tatap selama beberapa detik, bukan karena mengejutkan, tetapi supaya kita sadar bahwa sebagian besar diskusi kita tentang 

“calon suami ideal”, “calon istri ideal”, “financially stable”, “provider mindset”, “mapan sebelum nikah”, 

dan kalimat-kalimat mengerikan lain yang beredar di sosmed dan cukup membahayakan bagi para pemuja sosmed itu berlangsung di sebuah negara di mana rata-rata upah buruhnya tiga jutaan. Kita sering berbicara tentang pasangan hidup seperti sedang menyusun procurement requirement untuk proyek pemerintah: laki-laki, usia maksimal 32 tahun, tinggi minimal 175 cm, penghasilan minimal Rp20 juta, punya rumah, punya kendaraan, tidak sandwich generation, tidak punya utang, emotional intelligence tinggi, family man, lucu, wangi, tidak botak, bisa komunikasi, tidak follow perempuan random berdada besar, rajin olahraga, tidak merokok, tidak main judi online, tidak punya trauma masa kecil, ibunya tidak terlalu ikut campur, ayahnya menyenangkan, keluarganya harmonis, libido sesuai, love language cocok, suhu AC sama, dan chemistry tentu harus dapat. 

Masalahnya bukan kita tidak boleh punya preferensi. Silakan saja itu mah. Kita semua punya hak untuk punya selera. Saya juga punya preferensi hidup bisa order sushi tei seenak hati saya sambil memandangi senja ditemani dengan Netflix 4k tanpa harus sharing. Masalahnya adalah sampai hari ini rekening bank saya belum ikut berpreferensi.

Pada Maret 2025, garis kemiskinan nasional Indonesia tercatat sekitar Rp609.160 per kapita per bulan. Sekitar 23,85 juta orang, atau 8,47 persen penduduk Indonesia, hidup di bawah garis tersebut. Jangan berpikir, 

“Berarti kalau pengeluaran saya Rp800 ribu sebulan saya sudah aman.” 

Tidak, guys-guysku. Kalian semua hanya tidak dikategorikan miskin berdasarkan metodologi tersebut. Itu berbeda sekali dengan makmur, berbeda lagi dengan nyaman, berbeda lagi dengan aman, dan sangat berbeda dengan bisa membawa keluarga ke rumah sakit tanpa sebelumnya membuka aplikasi mobile banking sambil membaca Ayat Kursi. Ada jarak yang sangat lebar antara “tidak miskin” dan “punya hidup yang terasa aman”. 

Di antara keduanya ada biaya kontrakan, biaya sekolah, motor mogok, laptop rusak, gigi berlubang, orang tua sakit, anak demam, BPJS kelas 1, cicilan, bensin, servis AC, kondangan, dan satu undangan pernikahan teman lama yang entah mengapa diselenggarakan di hotel bintang lima ketika kalian sedang tanggal tua. Secara statistik Anda tidak miskin. Secara psikologis Anda sedang menghitung apakah amplop Rp100 ribu masih sopan atau enggak, atau mending gausah dateng kondangan aja pura pura lupa. Itulah sebabnya percakapan tentang menikah sebenarnya hampir tidak pernah hanya tentang cinta. Dia juga tentang risk management.

Kemudian kita sampai pada ketimpangan. Pada Maret 2025, Gini ratio Indonesia tercatat 0,375. Di perkotaan bahkan 0,395, sementara di perdesaan 0,299. Kelompok 40 persen penduduk dengan pengeluaran terendah menikmati sekitar 18,65 persen dari total pengeluaran. Saya sengaja tidak akan mengatakan, 

“Satu persen orang Indonesia menguasai 99 persen kekayaan,” 

 


Tapi data tersebut cukup memberi kita satu gambaran sederhana: kemampuan ekonomi masyarakat tidak tersebar rata. Dan masalahnya, selera romantis juga tidak diwajibkan mengikuti distribusi pendapatan nasional. Orang dengan penghasilan tiga juta boleh jatuh cinta kepada orang yang gaya hidupnya lima belas juta. Tidak ada undang-undang yang melarang. Bumblee atau Tinder tidak pernah meminta slip gaji kamu, kan?. Bumblee juga sepertinya tidak pernah diperiksa OJK, enggak tau tuh kalau Mi Chat. Itulah akar dari banyak kekonyolan hubungan manusia; keinginan kita sering kali premium, resources kita masih basic aja. Ibarat pengen home-dream furnitur IKEA/Informa, tapi apa daya mampunya beli second dari marketplace fesbuk yang itupun furnitur custom dari pengrajin Klaten.

Sekarang mari kita masuk ke ekonomi mikro. Anggaplah ada dua manusia urban yang masing-masing tinggal sendiri. Masing-masing membayar tempat tinggal, internet, listrik, galon, alat masak, sabun cuci piring, rice cooker, dan satu botol kecap yang anehnya bisa bertahan dari pemerintahan satu presiden ke presiden berikutnya. Kemudian mereka menikah. Tiba-tiba beberapa biaya itu bisa digabung: satu tempat tinggal, satu Wi-Fi, satu kulkas, satu mesin cuci, satu kompor, satu Netflix, satu dispenser, satu vacuum cleaner si penyedot debut tapi berdebu yang dibeli dua juta tetapi tetap kalah efektif dengan sapu lidi dari warung. 

Secara ekonomi ini masuk akal, loh! Ada yang disebut economies of scale dalam rumah tangga. Beberapa biaya hidup tidak naik dua kali lipat ketika anggota rumah tangga bertambah dari satu menjadi dua. Kalian menikahi pasangan, tetapi tidak otomatis membutuhkan dua ruang tamu, kecuali keduanya lagi berantem. Dalam situasi itu, dua ruang tamu memang membantu. Wkwkwk

Dari sudut pandang ini, aku mengerti kenapa ada orang yang memandang menikah secara sangat praktis. Dua penghasilan, satu rumah, sebagian biaya dibagi. Kalau seorang pria rata-rata memperoleh Rp3,59 juta dan seorang perempuan Rp2,86 juta, secara ilustratif dua penghasilan itu menjadi sekitar Rp6,45 juta. Tentunya kita tidak boleh mengatakan semua pasangan akan memiliki struktur pendapatan seperti itu. Itu cuma ilustrasi berdasarkan rata-rata. Tapi logikanya jelas: dua mesin ekonomi kecil bergabung menjadi satu household; kita menyebutnya Merger. Anjaasss! Keren bat istilah guehh 

Dan sejak aku sadar akan hal ini, aku makin curiga bahwa pernikahan sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan corporate merger.

Coba pikirkan, deh. Sebelum menikah, dua manusia adalah dua entitas independen. Masing-masing punya aset, liabilitas, pendapatan, pengeluaran, budaya organisasi, risiko hukum, risiko operasional, dan historical baggage. Pacaran adalah due diligence. Nah kalian ini sedang mengecek si target: orangnya baik tidak, utangnya berapa, marahnya bagaimana, kalau stres ngapain, hubungannya dengan keluarga bagaimana, punya kebiasaan aneh tidak, ada mantan yang secara administratif sudah selesai tetapi secara spiritual masih terdaftar sebagai pemegang saham tidak. Semua perlu diperiksa, kan? Ya kali main serobot gitu aja?!

Lamaran adalah term sheetnya! Keluarga bertemu, ada perhitungan valuasi tuh di situ, synergy dibicarakan, lokasi akad dipilih. Kemudian akad yang berarti closing transaction. KUA menjadi semacam regulator merger dua entitas manusia. Setelah closing, balance sheet bergabung. Pendapatan pasangan ikut memengaruhi hidup kamu, utangnya juga termasuk awokawok. Kebiasaan baiknya ikut masuk, kebiasaan buruknya juga. Dan kalian baru mengetahui tiga bulan setelah menikah bahwa orang yang terlihat elegan selama pacaran ternyata mempunyai kebiasaan memencet pasta gigi dari tengah. Ini material information yang entah kenapa tidak muncul saat due diligence. Nyebelin, tapi yaudah terlanjur yekan?

Lalu ada mertua! Serius kita perlu mempertimbangkan hal ini.
Mertua adalah
existing shareholder. Secara teori mereka sudah melepas kontrol operasional. Secara praktik? Tergantung corporate governance masing-masing keluarga. Ada mertua yang setelah anaknya menikah berkata, 

“Sekarang kalian rumah tangga sendiri. Putuskan yang terbaik.” 

Ohhh indahnyaaa~~ Tapi, ada juga yang pukul 06.17 mengirim WhatsApp, 

“Kenapa kemarin anak Mama mukanya capek?” 

Corporate interference. Laluuuu, ketika anak lahir, selamat: rumah tangga baru saja melakukan capital expenditure jangka panjang. Capex tersebut memang menggemaskan, tetapi kadang bangun pukul 02.13 pagi karena si bayi nangis minta susu.

Setelah semua kekonyolan ini, aku mulai berpikir bahwa alasan paling masuk akal untuk menikah sebenarnya sederhana: karena hidup kita menjadi lebih baik bersamanya. Bukan selalu lebih kaya, bukan selalu lebih mudah, tetapi secara keseluruhan lebih baik. Ada orang yang sebelum menikah hidup sendirian dengan biaya tinggi. Setelah menikah biaya bisa dibagi, dua income masuk, hidup lebih tenang. Life quality naik. 

Ada orang yang penghasilannya bagus tetapi pulang ke rumah merasa lonely setiap malam. Kemudian menikah dengan seseorang yang membuat rumah terasa benar-benar seperti rumah. Life quality naik. 

Ada orang yang punya anxiety besar menghadapi kehidupan. Pasangannya menjadi emotional anchor. Life quality naik. 

Ada yang sangat ingin membangun keluarga dan punya anak. Menikah memungkinkan hidup yang memang dia inginkan. Life quality naik. 

Dan ada juga orang yang setelah menikah justru pengeluaran naik, utang bertambah, konflik bertambah, tidur berkurang, karier terganggu, hubungan keluarga memburuk, dan setiap malam memandang plafon sambil mempertanyakan seluruh keputusan hidup sejak memilih jurusan kuliah. Life quality turun.

Jadi mungkin rumusnya bukan MENIKAH = HIDUP LEBIH BAIK, tetapi: menikah masuk akal ketika partnership menghasilkan kehidupan yang secara keseluruhan lebih baik daripada kehidupan yang bisa Anda bangun sendiri

Saya menyebutnya Marriage Surplus. 

Secara ngawurnya gini: Marriage Surplus = Synergy + Companionship + Shared Resources + Meaning − Conflict − Cost − Risk. Kalau hasilnya positif: BUY. Kalau samar-samar: HOLD. Kalau calon pasangan memiliki pinjol di empat belas aplikasi dan menjelaskan, “Nanti habis nikah aku pasti berubah,” STRONG SELL.

Sayangnya, manusia punya satu masalah besar: 

kita tidak selalu menyukai apa yang mampu kita dapatkan, dan kita tidak selalu mampu mendapatkan apa yang kita sukai. 

Seorang laki-laki bisa menginginkan perempuan yang cantik, pintar, lucu, mandiri, perhatian, sabar, religius, seksual kompatibel, tidak konsumtif, tidak suka drama, jago masak, sporty, dan menarik secara fisik. Boleh aja. 

Seorang perempuan bisa menginginkan laki-laki yang mapan, tinggi, ganteng, setia, emotionally available, tidak patriarkal tetapi tetap provider, family man, tidak kasar, tidak pelit, tidak terlalu dekat dengan keluarga besar tetapi sayang keluarga, pintar komunikasi, punya rumah, punya investasi, tidak punya utang, dan kalau bisa rambutnya masih lengkap. Boleh juga. 

Tetapi semakin banyak kriteria yang kita intersection-kan, semakin kecil pool-nya. Misalnya seseorang menginginkan pasangan yang masuk 10 persen teratas dalam penghasilan, 10 persen teratas dalam penampilan, 10 persen teratas dalam emotional maturity, dan 10 persen teratas dalam compatibility dengannya. 

Manusia kemudian melakukan hal paling manusiawi: 

tidak mendapatkan yang mereka inginkan, mengambil yang tersedia, kemudian marah karena yang tersedia tidak berubah menjadi yang mereka inginkan. 

Kayak gini ini ibarat seperti masuk warung membeli Indomie lalu marah, “Kenapa bukan Wagyu A5?” Karena dari awal kalian membeli Indomie, Pak. Kemasan produknya sudah jelas, kan? Woalahh...

Terus pertanyaan sekarang: siapa yang harus menanggung biaya hidup? Aku sih tidak ingin menyelesaikan perdebatan gender dalam beberapa paragraf. Kayak debat debat sosmed, misalkan kayak Twitter saja belum selesai setelah belasan tahun debat debat kayak gini. Tapi ada fakta ekonomi yang menarik; rata-rata upah buruh laki-laki pada Agustus 2025 sekitar Rp3,59 juta, perempuan sekitar Rp2,86 juta. 

Data ini bukan berarti perempuan otomatis dibayar lebih rendah daripada laki-laki untuk pekerjaan yang identik. Data rata-rata mengandung banyak faktor: jenis pekerjaan, sektor, jam kerja, pengalaman, dan sebagainya. Tetapi satu hal jelas: earning power keduanya secara agregat memang belum simetris. Kemudian di atas struktur ekonomi yang sudah tidak simetris itu, kita menaruh norma sosial: laki-laki harus provide, perempuan mungkin hamil, perempuan mungkin mengalami jeda karier, ada biaya pengasuhan, ada anak, ada pekerjaan domestik, ada risiko kehilangan pekerjaan. Semua nyata guys! Perusahaan juga lebih suka kasih gawe ke lakik! Kenapa? Ya karena lebih easy-going, gak ribet, mana ada lakik hamil. Kalau cewek hamil? Masa iye dilarang "Woy lo jangan hamil ya!"?

Maka saya sebenarnya memahami perempuan yang berkata, “

Kalau menikah, saya ingin laki-laki yang financially secure.” 

Tidak salah! Sama seperti gue memahami laki-laki yang berkata, 

“Saya ingin pasangan yang mau berkontribusi.” 

Tidak salah juga. Masalah muncul ketika dua ekspektasi itu bertemu realitas pasar kerja Indonesia. Perempuan menginginkan provider. Laki-laki ingin provide. HR perusahaan berkata, 

“Baik Pak. Setelah mempertimbangkan pengalaman Anda selama empat tahun, kami menawarkan Rp4.800.000 gross.” 

Laki-laki menjawab, 

“Tapi saya mau menikah, Pak.” 

HR berkata, 

“Ooh,” 

kemudian dia membuka Excel dan melihat "yaelah gue sanggupnya segitu, tong!". Tetap Rp4.800.000. Payroll tidak peduli Anda kepala keluarga. Bank juga tidak memberi bunga deposito ekstra karena Anda suami saleh ibadah tepat waktu dan rajin tahajud. PLN tidak mengurangi tarif karena istri Anda sedang hamil. Alfamart tidak punya promo, “TUNJUKKAN BUKU NIKAH, BERAS DISKON 70%.” Sayangnya tidak ada. Jadi kadang problemnya bukan laki-laki tidak mau bertanggung jawab. Problemnya adalah responsibility requirement tumbuh lebih cepat daripada income.

Anggaplah ekonominya selesai. Penghasilan aman, rumah ada, emergency fund ada, asuransi ada, investasi ada, utang tidak ada. Kemudian kalian berpikir, 

“Berarti aman?” 

Hahahaha. Belum. Karena sekarang kita masuk variabel paling tidak stabil dalam seluruh model ekonomi tadi: manusia. Manusia bisa punya uang tetapi menyebalkan. Manusia bisa ganteng tetapi tidak bisa komunikasi. Manusia bisa cantik tetapi setiap ada masalah menghilang tiga hari. Manusia bisa religius tetapi kalau marah melempar pintu dan motor CBR yang belum lunas cicilan kreditnya. Manusia bisa kaya tetapi ibunya mempunyai hak veto atas keputusan rumah tangga. Ada masalah suhu AC, misal satu orang ingin 18°C, satu ingin 25°C. Yang 18 kemudian tidur pakai selimut Gucci yang dibeli dari pasar malioboro. Bahkan aku sampai hari ini tidak memahami kelompok manusia ini. Kamu mengeluarkan uang untuk mendinginkan ruangan sampai menyerupai cold storage ayam beku lalu mengeluarkan uang lagi membeli selimut supaya tidak kedinginan. Kapitalisme telah menang di sini. Kakek Abraham Smith tersenyum dari liang kuburnya.

Belum lagi kita ngomongin masalah kebersihan. Satu orang habis mandi langsung menggantung handuk. Satu lagi menaruh handuk basah di kasur sampe ada jamur item-itemnya itu. Kalau aku menjadi hakim perceraian, kasus handuk basah mungkin saya selesaikan dalam enam menit. Belum lagi masalah kardus. Setiap beli barang, kardus disimpan. “Buat apa?” “Siapa tahu dijual lagi.” Tujuh tahun kemudian gudang penuh dengan kardus kipas angin Cosmos yang barang aslinya bahkan sudah diservis berkali-kali karena dinamonya panas. Ada decision fatigue. “Makan apa?” “Terserah.” “Bakso?” “Jangan.” “Padang?” “Bosen.” “Jepang?” “Jauh.” “Masak?” “Capek.” “Terserah itu maksudnya apa?” “Terserah.” Inilah alasan Nobel Ekonomi belum pernah diberikan kepada pasangan yang sukses menentukan makan malam setiap hari.

Ada asumsi aneh bahwa setelah menikah hidup manusia otomatis naik level. Padahal tidak. Menikah adalah multiplier. Kalau fondasinya bagus, bisa jadi bagus sekali. Kalau fondasinya berantakan, bisa memperbesar kekacauan. Utang sebelum nikah tidak secara metafisik menghilang setelah ijab kabul. Temperamen buruk tidak hilang karena cincin nikah melingkari jaris manismu. Ketidakjujuran tidak sembuh hanya karena foto prewedding-nya bagus di pantai sambil ngeliatin langit bareng bareng itu. Financial irresponsibility tidak berubah karena sekarang rekeningnya joint account. Kalimat 

“Nanti kalau sudah nikah pasti berubah” 

adalah salah satu bentuk kalimat paling agresif yang pernah diciptakan manusia. Anda berinvestasi pada perusahaan rugi dengan business plan: “Pokoknya nanti profitable.” Tidak ada projections, tidak ada timeline, tidak ada proof of concept, yang ada cuma cinta. Bahkan venture capitalist paling reckless pun biasanya minta pitch deck lho ini.

Lalu, apakah semua orang harus menikah? Setelah sepanjang ini membicarakan BPS, gaji, kemiskinan, ketimpangan, ekonomi rumah tangga, merger, due diligence, akhirnya kita sampai ke pertanyaan yang sejak awal sebenarnya sederhana. Ada ungkapan: “Bukankah segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan?” Iya. Aku pun tidak keberatan. Banyak hal memang berpasangan. Sepatu saya sepasang, kaos kaki saya sepasang, telinga saya sepasang, ginjal saya sepasang. Tapi “berpasangan” tidak otomatis identik dengan “setiap individu harus melakukan pernikahan”. Saya belum pernah menerima undangan: 

“Dengan memohon rahmat dan ridha Allah SWT, kami bermaksud menyelenggarakan walimatul ‘urs Ginjal Kiri & Ginjal Kanan. Dress code: merah marun.”

Ada perbedaan antara mengakui adanya pasangan dalam penciptaan dengan menyimpulkan bahwa setiap individu mempunyai kewajiban hidup yang sama persis. Kebutuhan manusia berbeda, keadaan berbeda, kemampuan berbeda, dorongan berbeda, tanggung jawab berbeda. Ada orang yang justru hidupnya jauh lebih terjaga setelah menikah. Dia membutuhkan companionship, membutuhkan keluarga, menginginkan anak, membutuhkan partner hidup, secara emosional siap, secara tanggung jawab siap, secara ekonomi mungkin belum sempurna tetapi punya kemampuan membangun bersama. Yaudah kalau keadaan kayak gitu; menikahlah.  

Ada orang yang belum siap. Penghasilan belum stabil, utang belum selesai, emosi masih seperti pasar kripto, setiap konflik menghilang, masih berharap pasangan nanti menjadi psikolog pribadi, ibu kedua, ATM, koki, motivator, personal assistant, teman seks, investor, dan petugas customer service sekaligus. Mungkin jangan buru-buru. Santai aja, standing single kayaknya gak buruk-buruk amat.

Aku secara pribadi melihat pernikahan sebagai kebutuhan, tetapi kebutuhan bagi orang yang memang membutuhkannya. Bagi yang sudah membutuhkan dan mampu memikul konsekuensinya, menikahlah. Bagi yang belum membutuhkan atau belum mampu, tidak perlu memperlakukan status belum menikah sebagai cacat-administratif gitu. Karena menurutku ada perkara yang jauh lebih penting daripada sekadar sudah menikah atau belum, yaitu bagaimana seseorang menjaga kesucian dirinya, integritasnya, dan tanggung jawabnya dalam keadaan apa pun yang sedang dia jalani. Belum menikah bukan lisensi untuk hidup sembarangan, kan? Sudah menikah juga bukan sertifikat tanda otomatis bahwa seseorang sudah berhasil menjadi manusia baik. Buku nikah adalah bukti pernikahan, bukan ISO 9001 untuk akhlak kaann? Orang bisa single dan menjaga diri. Orang bisa menikah dan tetap berkhianat. Orang bisa single dan hidup penuh tanggung jawab. Orang bisa menikah tetapi seluruh keluarganya hidup dalam ketakutan karena perangainya. Jadi status bukan end game kalian. Karakter pribadi tetap menjadi end game.

Ada ketakutan yang sering dilemparkan kepada orang yang belum atau tidak menikah: 

“Nanti tua sendirian gimana?” 

Pertanyaan yang valid, tetapi sering diucapkan seolah pernikahan adalah kontrak asuransi bahwa seseorang pasti ditemani sampai mati. Padahal tidak ada jaminan itu. Pasangan bisa meninggal duluan, bisa sakit, bisa berpisah, bisa tinggal berbeda kota. Anak bisa pindah negara. Dan bahkan dua orang bisa hidup di rumah yang sama sambil merasa sangat sendirian. Pernikahan bisa memberikan companionship, tetapi companionship tidak otomatis muncul hanya karena dua nama tercetak dalam satu buku nikah. Sama seperti memiliki gym membership tidak otomatis membuat perut six-pack. Saya bisa punya kartu member Gold’s Gym tujuh tahun. Kalau saya datang hanya untuk mandi, ya badan gue gini gini aja, gak mungkin tiba tiba kayak Ade Rai gitu aja.

Jadi mungkin kita salah bertanya. Bukan, 

“Haruskah saya menikah?” 

tetapi,  

“Apakah kehidupan saya dan kehidupan orang ini, ketika digabungkan, memiliki peluang yang masuk akal untuk menjadi lebih baik?” 
Apakah kami saling menjaga? Apakah kami saling memperbaiki? Apakah kami kompatibel dalam hal-hal fundamental? Apakah nilai hidup kami cukup sejalan? Apakah kami bisa bertengkar tanpa menghancurkan satu sama lain? Apakah kami bisa bicara soal uang tanpa salah satu mendadak kerasukan jin pesugihan kandang bubrah? Apakah kami bisa menjalankan tanggung jawab? Apakah saya menyukai dirinya yang sekarang, bukan dirinya yang saya khayalkan akan muncul lima tahun setelah pernikahan?  
Ini pertanyaan yang lebih berat, tetapi jauh lebih sehat.

Karena orang yang tepat bukan sekadar orang yang membuat kita berkata, “Ya sudahlah, umur juga sudah segini.” Orang yang tepat mestinya membuat kita sesekali memandang hidup sendiri dan berpikir, “Untung saya sama dia.” Bukan setiap malam sambil gosok gigi: “Kenapa dulu saya sama dia, ya?”

Setelah seluruh pembahasan ini, aku rasa kita akhirnya memperoleh satu kesimpulan; pernikahan bukan achievement, bukan quest wajib yang urutannya lulus kuliah, kerja, beli kendaraan, menikah, punya anak, kredit rumah, sakit pinggang, lalu mati. 

Pernikahan adalah salah satu bentuk partnership paling besar yang bisa dipilih manusia. Kalau partnership itu menciptakan positive-sum life, luar biasa nikmatnyo. Dua orang saling menjaga, saling menguatkan, biaya bisa dibagi, risiko dipikul bersama, kesepian berkurang, keluarga terbentuk, hidup mempunyai makna baru. Marriage Surplus positif maka BUY. 

Tapi kalau sejak sebelum menikah kamu kamu semua ini sudah melihat fundamental problem besar dan satu-satunya thesis investasi Anda hanyalah, “Nanti juga berubah,”......Bapak-Ibu sekalian, bahkan saham gorengan masih punya prospektus. Jangan melakukan due diligence pasangan hidup lebih buruk daripada memilih air fryer buat manasin ubi itu.

Dan bagi orang yang memang belum membutuhkan pernikahan, hidup sendiri bukan otomatis hidup gagal. Kamu tetap bisa bekerja, beribadah, menjaga diri, punya teman, merawat keluarga, membangun kekayaan, membaca buku, olahraga, traveling, mengerjakan sesuatu yang berguna, dan makan nasi Padang sendirian tanpa harus bertanya, “Kamu mau pesen apa?” kemudian mendengar, “Terserah,” lalu seluruh proses negosiasi Timur Tengah dimulai.

Pada akhirnya, yang penting bukan apakah seseorang berhasil memenuhi ekspektasi masyarakat dengan menikah pada umur tertentu. Yang jauh lebih penting adalah apakah keputusan hidupnya membuat dia menjadi manusia yang lebih baik, lebih bertanggung jawab, lebih terjaga, dan kalau dia memilih berpasangan apakah kedua manusia tersebut benar-benar menciptakan kehidupan yang lebih baik satu sama lain. 

Jadi, apakah seseorang harus menikah? 
Kalau kalian bertemu seseorang yang ketika hidup digabung dengannya membuat total hidup kalian lebih baik; kalau kalian siap memikul hak dan kewajibannya; kalau kalian bisa menjaga dia dan dia menjaga kalian; kalau kalian tidak sedang sekadar mengejar umur, gengsi, keluarga, atau tekanan sosial.....ya, kenapa tidak? Menikahlah. 

Tapi kalau belum, tidak perlu buru-buru melakukan merger hanya karena shareholder keluarga kalian mulai cerewet. Mereka paling cuma datang saat resepsi, foto, makan, bungkus souvenir, lalu pulang. Anda yang harus menjalankan rumah tangga hasil mergernya setelah itu.

Ya, kan?

So, good luck and have a nice day! 

0 Komentar

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Gopaylater Ads