Tone Deaf..Tone Deaf.. Kayak Ngerti Aja

 

 

Saya benci banget sama istilah tone deafSetidaknya untuk saat ini.

Bukan karena istilahnya salah. Istilahnya bagus kok, berguna malah. Ada orang yang memang bisa ngomong sesuatu di waktu yang salah, kepada orang yang salah, dengan sensitivitas sosial setara sandal hotel. Masalahnya sekarang semua orang tone deaf. Orang kaya pamer barang mahal ketika ekonomi lagi jelek? Tone deaf. Orang liburan ketika daerah lain kena bencana? Tone deaf. Orang ngomong soal kesehatan mental di tengah berita buruk? Nah, ini Maudy Ayunda kemarin, hahaha. Tone deaf

Kalau frekuensi penggunaan istilahnya begini terus, lama-lama saya curiga bukan orang lain yang tone deaf, tetapi kita yang kehilangan kemampuan membedakan mana ketidakpekaan, mana perbedaan pengalaman hidup, mana penyampaian yang buruk, dan mana orang yang sekadar mengatakan sesuatu yang tidak kita sukai.

Kemarin saya sempat melihat keributannya lewat Threads dan Instagram. Nyempil di antara postingan AI, pemerintah, tentang beasiswa, dan entah algoritma apalagi yang sedang berusaha meyakinkan saya bahwa saya butuh membaca opini orang random sebelum tidur. 

Maudy Ayunda katanya bikin video yang tone deaf. Saya buka beberapa postingan yang menguliti videonya. Ada yang marah karena Maudy menyuruh orang menjauh dari berita buruk padahal warga Kalimantan literally sedang kesulitan bernapas akibat karhutla. Ada yang mempermasalahkan privilege. Ada yang bilang dia sudah tidak napak tanah. Ada yang sampai memutuskan unsubscribe

Saya baca dan sempat berpikir,

“Wah, kurang ajar juga kalau memang begitu.” 

Terus saya cari videonya. Ternyata videonya berjudul Mindfulness in the Age of Bad News, durasinya belasan menit, dan yang lucu wadadidaw itu... videonya sudah diunggah sejak 21 Agustus 2026. Bukan kemarin sore saat netijen mulai ramai memakinya. 

Terus saya tonton... 

Lho? Sebentar. 
Maudy sebenarnya ngomong apaan, sih? Karena kalau mengikuti kemarahan para netijen ini, saya membayangkan videonya dibuka dengan Maudy memotong alpukat di dapur lalu bilang, 

“Guys, kalau asap Kalimantan mengganggu inner peace kalian, coba dimatikan saja beritanya.” 

Kalau begitu sih iya. Lempar sandal dan peralatan rumah tangga aja sekalian. Ternyata bukan itu. Dia ngomong tentang rasa kewalahan ketika terus-menerus menerima kabar buruk, negative bias, kebiasaan mengonsumsi informasi secara berlebihan, memilih sumber informasi yang dipercaya, tahu kapan kita sudah cukup memahami sebuah isu, lalu memberi batas kepada diri sendiri agar tidak membaca konten kesepuluh atau kelima belas mengenai kejadian yang sama. Bahkan secara eksplisit dia mengatakan bahwa mengambil jarak bukan berarti berhenti peduli. Deskripsi videonya sendiri menyebut persoalan politik, bencana alam, kesulitan ekonomi, dan secara khusus mengirim doa untuk orang-orang di NTT dan Kalimantan yang sedang mengalami musibah.

Jadi apa yang tone deaf? Nah, di sini saya justru ngerti kenapa orang kesel.

⭐visualnya

Wkwkwk. Beneran dah!

Anda bayangkan sedang tinggal di daerah yang udaranya penuh asap, listrik mungkin tidak selalu nyaman, aktivitas terganggu, anggota keluarga batuk-batuk, kemudian lewat di layar seorang perempuan kaya, cantik, lulusan Oxford dan Stanford, hidupnya tampak sangat tertata, sedang menyiapkan makanan sehat di dapur yang nyaman sambil ngomong tentang cara menjaga kewarasan dari berita buruk. 

Pada titik tertentu, substansi pesannya kalah sama komposisi gambarnya. Orang bahkan tidak perlu membenci Maudy untuk merasa bahwa pemandangan itu agak… yah… njomplang. Kritik semacam ini bukan karangan aja lho ini. Warganet memang secara spesifik menyoroti kontras visual antara kondisi nyaman dalam vlog dengan masyarakat yang mengalami karhutla, kelangkaan, dan gangguan hidup secara langsung. 

Dan untuk konteks, masalah karhutlanya juga bukan receh receh aja ini. Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 10,6 juta penduduk di tujuh provinsi terdampak per 27 Agustus 2026, sementara pada September jumlah orang yang terpapar asap sudah dilaporkan melampaui 12 juta dan kasus gangguan pernapasan melonjak tajam. 

Jadi kalau ada warga Kalimantan yang melihat video itu lalu berkata, 

“Mbak, saya nggak bisa take a break dari bad news karena bad news-nya ada di depan rumah,” 

ya saya juga nggak akan ceramahin orang itu soal mindfulness. Gila aja kalean.

Tapi justru di situlah bedanya kritik dengan "pengadilan" karakter. 
Anda bisa mengatakan
video itu kurang sensitif terhadap pengalaman orang yang terdampak langsung tanpa harus menyimpulkan Maudy Ayunda adalah manusia tidak berempati
Dua kalimat itu kelihatannya mirip, padahal jaraknya jauh. 

Yang pertama mengkritik pesan dalam konteks tertentu. Yang kedua mengklaim mengetahui isi kepala dan kualitas moral seseorang dari beberapa menit konten internet. Dan internet kita akhir-akhir ini semakin suka melompat dari yang pertama ke yang kedua. Satu ucapan salah menjadi kepribadian loh. Banyak kan kasus orang terpleset gara-gara satu-dua kalimat? 

Satu video menjadi bukti watak aja itu dah aneh banget sebenarnya. Satu pilihan kata menjadi simbol moralitas seseorang. Mungkin karena

 “Saya pikir framing video ini tidak cukup mempertimbangkan pengalaman masyarakat yang terdampak langsung” 

terlalu panjang untuk dijadikan postingan viral. Lebih gampang tulis: TONE DEAF. Selesai. Moral clarity tercapai. Dopamin keluar.

Padahal kalau mau kita bedah lagi dalam lagi dalam kondisi netral ye (jangan marah-marah dulu), Maudy memang tone deaf terhadap banyak pengalaman hidup orang Indonesia.

Ya jelas lah! Dia mana relate sepenuhnya? Orang under ten percent mana bisa memahami 90% sisanya?

Dan sebelum ada yang senang karena merasa saya ikut menendang Maudy, tunggu dulu: saya juga tidak relate dengan mayoritas masyarakat Indonesia.

Tidak hanya saya, mungkin Anda juga. 

Saya tidak tahu rasanya bangun setiap pagi dengan kepastian bahwa kalau hari itu tidak bekerja maka keluarga tidak makan karena saya masih ada cukup tabungan dana darurat. Orang yang prasejahtera mana ada dana darurat jika tiap hari statusnya darurat? 
Saya tidak tahu rasanya setiap hari desak-desakan di KRL sambil menjaga laptop supaya tidak kegencet orang selama satu jam perjalanan. Paling mentok saya pernah duduk di kereta ekonomi berjam-jam lalu mengeluh karena punggung sakit, udah gitu aja. Itupun karena terpaksa aja saya milih kereta ekonomi + saya mampu beli set bantal leher dan punggung yang membuat saya tetap nyaman. 

Saya tidak hidup dengan kecemasan apakah satu kebijakan pemerintah bulan depan membuat penghasilan keluarga hilang. Bidang yang saya geluti malah dekat dengan teknologi; ketika sebagian orang cemas pekerjaannya digantikan teknologi, saya justru termasuk orang yang bisa memperoleh manfaat besar dari teknologi itu. Keuangan saya makin gacor semenjak adanya AI-AI ini, yang tadinya saya hanya mampu handle 1 klien per bulan, gara-gara ada AI, 10 klien pun sanggup!

Makanan saya juga cukup. Saya bisa memikirkan protein, karbohidrat, olahraga, tidur, produktivitas, bahkan hobi. Bukankah kemampuan memikirkan semua itu juga suatu bentuk kemewahan? Bukankah ini juga bentuk privilege?

Saya sendiri pernah sangat kritis terhadap privilege. Dulu saya paling gampang sebel melihat anak yang kuliah modal bapak-ibunya dengan segala fasilitas mewahnya dibandingkan saya yang harus naik motor beat. 
Jalan-jalan ke LN aja dibayarin berasa main dari Jogja ke Klaten aja. Gadget gausah ditanya, dibelikan merk apple, bandingkan dengan saya yang android low entry, setahun kemudian udah ada notifikasi memori penuh! 

Kuliah ada yang bawa mobil juga itu rasanya kayak "kok bisa ya?". Mana ada dia ngerasain panas hujan, berangkat kuliah tanpa alas kaki sepatu dimasukkan ke tas.
Dalam kepala saya waktu itu: enak banget hidup, tinggal gesek kartu papi-mami. Saya bisa punya penilaian moral yang luar biasa keras karena orangtua saya mendidik saya dengan cara yang sangat keras juga. Jadi saya merasa orang yang tidak melewati jalan serupa somehow kurang layak menikmati hasil hidupnya. 

Sampai saya dewasa.... saya menyadari banyak hal. Saya buka bisnis dari saya kuliah, dan buanyaakk sekali orang-orang yang saya temui, ketika temen-temenku banyak yang kerja sambilan di tempat karaoke, atau usaha-usaha kayak mie ayam yang sehari lu cuma dapet 50rebu dengan kerja begitu hyperaktifnya, ketika saya tanya "kok kamu gak buka usaha aja kenapa daripada kerja di tempat modelan gini?". Jawabannya ya jelas "kalau gue gagal, maka semuanya juga gagal bre". Saya menyadari, jika bisnis saya gagal waktu itu, saya masih ada tempat berpulang. Meskipun orang tua saya begitu keras dalam mendidik saya, tapi tidak pernah membiarkan anaknya jatuh miskin. Setidaknya, saya dijamin hidup berkecukupan meskipun bisnis saya bangkrut atau terjadi apa-apa. Namun, saya tidak berdiri di depan orangtua sambil berkata, “Maaf, saya tidak bisa menerima semua uang ini karena struktur distribusi kekayaan antargenerasi tidak merata.” Nggak. Saya terima juga!

Munafik? Ya bisa jadi.

Atau mungkin saya akhirnya menyadari bahwa manusia jauh lebih mudah menjadi ideologis terhadap keberuntungan orang lain daripada terhadap keberuntungan dirinya sendiri.

Dan sebenarnya rasa iri itu manusiawi. Rasa frustrasi melihat orang lain memperoleh sesuatu yang bahkan untuk kita impikan saja sulit juga manusiawi. Ketimpangan bahkan memang layak dikritik secara politik dan ekonomi. 

Yang mulai aneh adalah ketika rasa frustrasi itu berubah menjadi keyakinan bahwa orang yang lebih beruntung harus merasa bersalah karena beruntung. Seolah-olah seseorang lahir di keluarga kaya itu keputusan strategis yang dia ambil ketika masih berada di kandungan. Ada orang lahir dengan orangtua kaya. Ada yang lahir dengan jaringan sosial bagus. Ada yang lahir cakep. Ada yang atletis. Ada yang IQ-nya tinggi. Ada yang lahir di negara dengan transportasi publik bagus. Ada juga yang lahir di negara yang untuk mengurus satu dokumen masih kadang diminta membawa fotokopi dokumen lain yang sebenarnya sudah dimiliki kantor yang sama. Birth lottery memang tidak adil. Hidup dari awal memang tidak pernah menjanjikan starting line yang sama.

Pertanyaan yang lebih berguna karena itu bukan “Kenapa Maudy punya privilege?” Ya karena dia emang punya. Mau diapakan? Pertanyaan yang lebih relevan adalah: apa yang dilakukan seseorang setelah dia menyadari privilege tersebut? Apakah dia menggunakan aksesnya untuk menginjak orang? Apakah dia memengaruhi kebijakan publik yang merugikan orang lain? Apakah dia menolak mendengar kritik ketika blind spot-nya ditunjukkan? 

Nah, di sini kasus Maudy malah jadi agak lucu. Setelah kritik muncul, dia mengakui bahwa kemampuan menjauh dari berita itu sendiri merupakan privilege, meminta maaf karena perspektif itu belum cukup direfleksikan dalam videonya, menegaskan bahwa mindfulness bukan alasan untuk berhenti peduli, lalu bilang dia mendengar dan belajar dari masukan tersebut. 

Bukankah itu literally mekanisme yang kita inginkan ketika seseorang punya blind spot? Salah atau kurang lengkap perspektifnya. Dikritik. Dengar. Refleksi. Koreksi.

Terus apa lagi? Harus dicambuk di Monas? Harus dijepit hidungnya pake jepitan jemuran kek.... buset lu kenapa jadi dehumanisasi gara-gara dia gak tau kondisi lu? Terus apa bedanya lu sama dia yang lu katain tone deaf itu?

Kadang saya bingung apakah budaya calling out kita sebenarnya masih bertujuan memperbaiki perilaku atau sudah berubah menjadi kompetisi eksekusi karakter. Kalau orang melakukan kesalahan, mendengar kritik, mengakui kekurangan perspektifnya, dan memperbaikinya tetapi kita tetap merasa belum puas sebelum reputasinya hancur, mungkin yang kita cari sejak awal memang bukan perubahan. Mungkin kita cuma ingin menang. Dan kemenangan moral memang narkotika yang sangat nikmat karena membuat kita dapat merasa lebih baik daripada orang lain tanpa harus melakukan sesuatu yang terlalu sulit.

Masalah lain menurut saya justru jauh lebih menarik: kenapa ekspektasi kita kepada Maudy setinggi itu?

Coba pikir deh sambil nyeruput mie ayam biar ga marah marah.

Maudy pintar, cantik, alumni Oxford dan Stanford yang itu gak bisa disamain sama kampus ruko pinggir jalan provinsi. Bicara pendidikan iya, baca buku pasti (gak mungkin gak baca buku, mana bisa doi lulus). Punya kegiatan sosial juga iya lewat Maudy Foundation. Bahasa Inggris jelas bagus. Pasangan juga kelihatannya sih sukses ya. Kehidupan tertata lah jelas, wong bisa ngevlog sambil bikin... gak tau ya itu telur ceplok apa orak arik. 

Instagram bagus followers banyak. Lengkap sudah character build-nya. Bertahun-tahun internet memasukkan potongan-potongan itu ke kepala kita sampai tanpa sadar kita membuat satu manusia baru bernama “Maudy Ayunda” yang sebenarnya bukan Maudy Ayunda. Dia adalah konstruksi kita sendiri tentang perempuan ideal: pintar, progresif, berempati, anggun, sosial, sukses, tetapi harus tetap relatable. Kaya boleh, tapi jangan kelihatan terlalu kaya. Pintar boleh, tapi opininya harus sama dengan kita. Punya privilege boleh, asalkan setiap kali bicara dia melakukan pengecekan kelas sosial terhadap seluruh 280 juta penduduk Indonesia terlebih dahulu.

Kemudian suatu hari manusia asli di balik karakter itu mengatakan sesuatu yang tidak cocok dengan karakter yang kita bangun.

“Lho kok begini?”

Ya begini lohh... Dia juga manusia. Se-perfect apapun Maudy, dia juga modol sama kayak kita semua. Dia juga pasti kentutnya bau sama seperti kita semua. Sewangi-wanginya dia, kalau Maudy tiba-tiba jigongin lu juga pasti bau jigong juga itu. Samaa!

Kita sering bukan kecewa karena figur publik berubah. Kita kecewa karena mereka ternyata tidak identik dengan tokoh yang kita konstruksikan sendiri dari timeline mereka.

Dan menurut saya ini akar yang lebih besar daripada persoalan Maudy. Kita terlalu banyak mendewakan influencer. Kehidupan orang lain menjadi serial Netflix yang kita ikuti setiap hari. Kita tahu dia menikah dengan siapa, sekolah di mana, sarapan apa, olahraga apa, liburan ke mana, punya anak kapan, bahkan kadang lebih tahu isi ruang tamunya daripada isi ruang tamu tetangga sendiri. Karena paparan itu terus menerus, otak mengembangkan ilusi kedekatan. Kita merasa kenal. Padahal yang kita kenal cuma potongan hidup yang sengaja atau tidak sengaja ditampilkan kepada publik.

Lalu kita projecting.

Influencer favorit harus setuju dengan kita soal politik. Harus punya pandangan gender yang sesuai. Harus bicara ketika ada bencana. Harus diam ketika kita menganggap dia tidak punya otoritas bicara. Harus menggunakan privilege-nya. Tapi jangan sampai performative. Kalau donasi diam-diam, ditanya kenapa nggak speak up. Kalau donasi diumumkan, dibilang pansos. Kalau liburan ketika orang lain sedang kena musibah, tone deaf. Kalau posting tentang musibah, dibilang numpang engagement. Kalau diam, silence is violence.

Bukan Maudy, tapi ya dikatain tone deaf juga.

 

Lah terus manusia mesti ngapain, guys-guysku?

Makanya saya agak geli melihat beberapa orang kemudian membandingkan Maudy dengan figur publik lain yang dianggap lebih peka. Hari ini figur A jadi standar emas moral. Figur B dipuji karena berani bersuara. Besok figur A ngomong sesuatu tentang gender, perkawinan, childfree, politik, agama, Palestina, Israel, pajak, makan daging, mobil listrik, atau isu apa pun yang tidak cocok dengan worldview kelompok tertentu, lalu kita kecewa lagi.

Siklusnya tidak pernah selesai karena problemnya mungkin sejak awal bukan selebritas yang gagal sempurna.

Problemnya kita yang sangat bodoh berharap mereka sempurna.

 

Maksudnya apaan coba?

Karl Marx dulu punya kalimat terkenal tentang agama sebagai opium masyarakat. Saya tidak mau sok-sokan mengatakan sosmed adalah agama baru karena nanti kedengarannya seperti caption anak semester tiga yang baru selesai baca dua halaman filsafat. Tapi saya rasa fungsi psikologisnya kadang lucu juga kalau dibandingkan. Manusia memang suka punya sesuatu untuk dipuja, sesuatu untuk memberi identitas, kelompok untuk merasa menjadi bagian darinya, tokoh yang dianggap suci, tokoh yang dianggap sesat, dan ritual untuk menunjukkan kesetiaan. Cuma sekarang ada infinite scroll dan tombol repost. Bahkan kita sudah punya mekanisme ekskomunikasi sendiri: cancelled, atau blocked.

Dan algoritma menyukai semua itu. Meta Ads sangat jatuh cinta dengan manusia seperti ini...

Makanya saya juga tidak terlalu tertarik dengan teori bahwa setiap kontroversi artis pasti sengaja dinaikkan penguasa untuk mengalihkan perhatian. Bisa saja operasi informasi terjadi dalam politik; sejarahnya banyak kok. Tetapi kita bahkan tidak membutuhkan ruang gelap berisi beberapa orang yang merencanakan, 

“Besok kita goreng Maudy supaya rakyat lupa kebijakan X.” 

Sistem perhatian kita sendiri sudah cukup bodoh untuk melakukannya secara organik.

Coba pilih.

Satu sisi ada dokumen undang-undang dua ratus halaman berisi frasa “sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b” yang konsekuensinya mungkin memengaruhi hidup Anda selama dua puluh tahun.

Di sisi lain ada selebritas cantik bikin telur sambil ngomong sesuatu yang menurut Anda menyebalkan.

Tebak mana yang akan mendapat 40 ribu repost coba?

Tidak perlu konspirasi. Incentive structure-nya sudah cukup.

Dan itu yang justru mengkhawatirkan. Kita bisa menghabiskan energi luar biasa untuk menentukan apakah figur publik cukup sensitif ketika berbicara tentang berita buruk, lalu kehabisan energi untuk membaca berita buruk yang sebenarnya. Kita marah karena seseorang dianggap tidak cukup peduli pada kebijakan publik, tetapi kemarahan itu sendiri membuat kita tidak lagi membicarakan kebijakan publiknya. Kita mengkritik orang karena terdistraksi, dengan cara… ikut terdistraksi.

Apa itu kalau bukan sedikit tone deaf juga?

Saya tidak mengatakan kemarahan warga Kalimantan tidak valid. Justru sebaliknya. Kalau Anda benar-benar hidup dalam asap, melihat keluarga sakit, pekerjaan terganggu, sekolah terganggu, lalu seseorang yang jelas hidup jauh lebih nyaman memberi saran soal mengatur konsumsi berita, rasa jengkel itu sangat masuk akal. Saya tidak menyinggung apapun bagian ini.

Kondisi karhutla 2026 memang serius: jutaan orang terpapar, gangguan pernapasan meningkat tajam, penerbangan dan aktivitas masyarakat terganggu, dan pemerintah sampai membutuhkan pengerahan besar untuk penanganannya. Empati bukan berarti kita harus menyangkal kemarahan orang yang benar-benar menderita.

Tapi empati mestinya bekerja dua arah.

Kalau kita meminta seseorang melihat konteks hidup orang lain sebelum bicara, kita juga seharusnya bersedia melihat konteks sebelum menghakimi seseorang. Kita boleh mengatakan pesannya tidak lengkap. Kita boleh mengatakan framing-nya buruk. Kita boleh bilang timing-nya apes. Bahkan boleh berhenti mengikuti kontennya karena merasa tidak cocok. Itu hak siapa saja.

Yang menurut saya mulai malas adalah ketika semuanya disederhanakan menjadi satu label.

Tone deaf.

Nggak napak tanah.

Elitis.

Privileged.

Tidak punya empati.

Padahal manusia tidak pernah sesederhana hashtag yang kita tempelkan kepadanya.

Dan ironinya, kata tone deaf awalnya seharusnya membantu kita berbicara tentang empati. Sekarang kadang ia justru dipakai untuk meniadakan empati kepada orang yang dianggap kurang empatik. Kita marah karena seseorang mereduksi pengalaman orang lain, lalu membalasnya dengan mereduksi seluruh manusia itu menjadi satu kesalahan.

Lucu juga.

“Have some empathy, you fucking piece of shit.”

Kurang lebih begitu bentuk internet hari ini.

Jadi apakah Maudy Ayunda tone deaf?

Ya, jelas!

Dalam bagian tertentu, jelas ada blind spot. Bahkan Maudy sendiri mengakuinya.

Tapi saya juga tone deaf. Anda juga. Semua manusia punya bagian realitas yang tidak bisa dia dengar dengan sempurna karena kita tidak pernah hidup di semua kehidupan sekaligus.

Namun di sini saya perlu memberi garis tebal: semua orang memiliki blind spot, tetapi tidak semua blind spot mempunyai konsekuensi yang sama. Kalau yang tidak peka adalah orang random di Threads, konsekuensinya paling banter Anda jengkel. Kalau yang tidak peka adalah orang yang membuat kebijakan, menguasai modal, mengatur anggaran, menentukan akses kesehatan, pendidikan, upah, atau hukum, blind spot-nya bisa mengubah hidup jutaan orang.

Itu sebabnya saya justru ingin energi publik kita lebih presisi.

Marahlah kepada selebritas kalau memang mau. Kritiklah. Mereka juga manusia dewasa yang bisa menerima kritik. Tapi jangan sampai kita punya standar akuntabilitas lebih tinggi kepada orang yang membuat vlog dibandingkan kepada orang yang membuat undang-undang.

Maudy Ayunda bukan pejabat publik. Dia tidak punya kewajiban konstitusional untuk memahami setiap keresahan kita. Dia boleh salah bicara. Dia boleh punya pendapat yang tidak kita suka. Dia boleh membuat video corny ahh city girly vlog sambil bingung apakah telurnya mau diceplok atau diorak-arik.

Dan kita boleh mengejeknya juga kok. Santai aja.

Yang jangan adalah membuat seluruh hidup kita bergantung pada apakah orang yang kita ikuti di Instagram hari itu berhasil memenuhi standar moral yang kita ciptakan sendiri. Kalau mulai begitu, mungkin sudah waktunya kita tutup aplikasi sebentar. Bukan karena berita buruk harus dihindari, bukan juga karena politik tidak penting. Justru supaya ketika kembali membuka layar, kita masih tahu mana yang penting.

"Lah tapi kan Maudy itu alumni EL PE DE PE! Dia pendidikannya dibayarin oleh pajak rakyat lohh!"

Lah terus kenapa? Kamu juga bisa ikut LPDP, itu terbuka untuk publik juga kok. Alias, itu tidak ada hubungannya, mau dia alumni or not alumni. Perkara menikmati pajak rakyat, lah emang kalian tidak menikmati? Saya yakin, kalian juga pasti menikmati pajak rakyat, cuma gak sadar aja. Toh, Maudy sudah berperan banyak juga terhadap kepentingan sosial. 

Justru alih-alih mengatakan Maudy itu alumni LPDP lalu harus peduli sosial, mengapa mata kalian tidak diarahkan ke pejabat yang memang benar-benar berkuasa atas kebijakan publik? Mereka jauh memakai pajak rakyat dibandingkan Maudy. 

Saya tidak sedang membela Maudy Ayunda. Saya juga tidak sedang menyuruh warga yang marah untuk berhenti marah. Saya cuma mulai lelah melihat kata-kata seperti tone deaf digunakan seolah-olah manusia terbagi menjadi dua kelompok yang sederhana: mereka yang sudah tercerahkan seperti kita dan orang-orang bodoh banget yang perlu kita edukasi.

Padahal besok giliran kita.

Besok kita yang salah ngomong. Besok kita yang tidak mengetahui konteks. Besok kita yang mengatakan sesuatu berdasarkan pengalaman hidup kita sendiri dan baru sadar belakangan bahwa pengalaman itu tidak universal.

Dan saya berharap ketika giliran itu datang, masih ada orang yang cukup waras untuk bilang,

“Eh, perspektif lo kurang lengkap.”

Bukan langsung,

“Lo manusia sampah.”

Karena koreksi perilaku berbeda dengan eksekusi karakter. Maudy mungkin tone deaf.

Saya juga.
Anda juga. Selamat. Kita ternyata manusia.

Pertanyaannya sejak awal bukan apakah kita punya blind spot. Kita pasti punya. Pertanyaannya adalah apakah ketika seseorang menunjukkan blind spot itu, kita cukup dewasa untuk mendengar, memperbaiki perspektif, lalu melanjutkan hidup.

Dan mungkin sebelum terlalu sibuk menentukan siapa yang tone deaf hari ini, kita bisa mengecek satu hal terlebih dahulu: jangan-jangan ketika semua orang sedang ribut saling menuduh tidak mendengar, kita sendiri sudah berhenti mendengarkan.

So, good luck and have a nice 'tone deaf'! 

 

0 Komentar

Type above and press Enter to search.