Gurih Mantap Parkir Liar
Halo, semuanya!
Kebanyakan dari kalian pasti sepakat bahwa praktik parkir liar di Indonesia menjadi biang atas gangguan ketertiban kota. Menilai bahwa praktik parkir liar adalah sebuah "kriminalitas kecil" yang mengganggu usaha informal karena sangat berat hati mengeluarkan pundi Rp 2.000 - Rp 5.000 merupakan sebuah bentuk pengabaian pada permasalahan struktural yang lebih besar. Perlu kita sepakati juga, terlepas betapa kesalnya kita terhadap praktik parkir liar, pekerjaan menjadi kang parkir merupakan bagian dari sektor ekonomi informal - alias sebuah ruang ekonomi yang muncul ketika sebuah negara gagal menciptakan sistem distribusi kesejahteraan dan pekerjaan formal yang memadai.
Sebagaimana pekerjaan sebagai pengamen, manusia silver, badut persimpangan, atau orang-orang yang suka atraksi di lampu merah itu, entah menggunakan kostum spiderman (tapi sepatunya air jordan KW), maupun kostum superhero lain; kang parkir liar juga termasuk jamaah besar masyarakat yang berapa pada batas antara "mata pencaharian" dan "potensi kriminalitas".
"Lohh, jadi maksudmu pekerjaan-pekerjaan itu merupakan tindakan kriminal?"
Uuuggh~ Tenang dulu, kita bahas satu-satu.
Coba ketika pada suatu hari, kamu muterin ruko untuk mencari celah kosong parkir. Kamu maju pelan-pelan, takut ada paku kali. Kamu cuma mau beli plastik cap JOYOBOYO yang harganya under 5k itu.
Ketika kamu kembali ke motormu, suasana masih sepi. Barulah ketika kamu sudah nangkring di atas motor, tiba tiba jreeenngg! Muncul sesosok pria legend dengan rompi lusuhnya, sambil.. diem aja. Iya, diem aja. Biasanya juga gitu kan? Apalagi kalau kita udah kasih duitnya, baru tuh cabut si pria legend tersebut.
Seketika kamu berpikir "Kok bisa sih abang ini ada di mana-mana? Kenapa pemerintah gak hapus aja nih sistem NPC kayak ginian deh?!".
Nah, dari momen receh kayak gitu, sebenarnya kita lagi ngeliat fenomena ekonomi yang lumayan dalam, bukan sekadar “gangguan kecil kota”. Parkir liar itu bukan cuma soal ketertiban, tapi bagian dari cerita panjang tentang bagaimana kota berkembang, bagaimana negara bikin kebijakan, dan bagaimana masyarakat beradaptasi ketika sistem formal belum cukup siap.
SEMUA BERAWAL DARI ALI SADIKIN
Kalau ditarik ke belakang, praktik parkir informal di Jakarta itu bukan muncul tiba-tiba kayak notif judol. Di era Ali Sadikin, ketika kendaraan mulai banyak tapi infrastruktur belum siap, muncul kekosongan layanan. Ruko-ruko belum punya lahan parkir, pemerintah juga belum punya sistem yang matang. Nah, di celah itu, masyarakat bergerak sendiri. Ada orang yang “inisiatif” bantu ngatur kendaraan, lalu minta imbalan. Awalnya mungkin sederhana, bahkan terasa membantu. Tapi karena kebutuhan itu nyata, praktiknya jadi makin luas. Apalagi ternyata diketahui, berprofesi menjadi kang parkir merupakan profesi tergampang. Gak butuh kualifikasi harus jadi sarjana, cukup modal sempritan aja udah bisa jadi kang parkir. Apa coba tantangannya? Bahkan barang hilang saja bukan tanggung jawab kami.
Menariknya, pemerintah waktu itu tidak langsung mematikan praktik ini, tapi justru mencoba merapikan lewat institusi seperti PT Parkir Jaya. Tujuannya bagus: biar tertib, ada standar, dan masuk ke kas daerah. Tapi di sinilah bagaimana “ekonomi” bekerja! Ketika sesuatu dilegalkan sebagian, sering muncul “wilayah abu-abu”. Ada yang resmi, ada yang setengah resmi, dan ada yang benar-benar liar tapi tetap hidup karena ada permintaan. Yap, supply and demand. Jadi sistem formal dan informal jalan bareng, kadang saling tumpang tindih.
Kalau dibandingin, negara seperti Amerika Serikat sudah lebih dulu pakai teknologi seperti parking meter sejak lama, jadi ketergantungan pada tenaga manusia jauh berkurang. Sementara di sini, karena modernisasi tidak jalan cepat, sistem parkir jadi sangat “manusia-sentris”. Ini penting, karena begitu sebuah sistem bergantung pada manusia tanpa kontrol kuat, selalu ada ruang buat improvisasi yang kadang berujung ke praktik liar. Apapun itu, dan semuanya. Bahkan judol juga begitu, awalnya kan hanya praktik judi bola terkam, atau judi main gaple, dari situ berkembang menjadi praktik liar yang di-online-kan.
EKONOMI INFORMAL
Masuk ke sisi yang lebih “ngena”, parkir liar itu erat banget hubungannya sama ekonomi informal. Ini sektor yang muncul bukan karena orang hobi hidup di luar aturan, tapi karena sistem formal tidak cukup menampung semua orang. Banyak pelaku parkir liar itu sebenarnya lagi berada di titik antara “ingin kerja layak” dan “tidak punya akses”. Skill terbatas, pendidikan tidak tinggi, peluang kerja formal sempit, akhirnya pilihan rasionalnya ya ambil pekerjaan yang entry barrier-nya rendah. Dan parkir liar itu nyaris tanpa modal: cukup hadir, berdiri, dan sedikit gestur tangan yang meyakinkan. Bahkan tidak perlu bekerja di bawah tekanan, ada orang ngamuk tinggal amukin balik.
Secara ekonomi mikro, ini bahkan bisa terlihat “menarik”. Tarif kecil, tapi volume tinggi. Dalam sehari bisa dapat penghasilan yang bagi sebagian orang terasa cukup, bahkan kadang menyaingi pekerjaan formal tertentu. Di sinilah muncul distorsi insentif. Orang bisa mulai mikir, “Ngapain capek-capek sekolah lama kalau hasilnya belum tentu lebih baik?” Nah, ini bukan soal malas atau rajin, tapi soal bagaimana struktur ekonomi membentuk pilihan individu. Ekonomi selalu balik ke situ: manusia merespons insentif, bukan sekadar idealisme.
Masalahnya, posisi parkir liar ini unik karena dia hidup di zona abu-abu hukum. Selama tidak ada pemaksaan atau ancaman, dia sulit dikategorikan sebagai kriminal. Jadi aparat bisa menertibkan, tapi tidak selalu bisa menindak tegas. Hasilnya ya siklus klasik: ditertibkan, hilang sebentar, lalu muncul lagi. Kayak lumut atau jamur triplek di lemari kamarmu. Bukan karena bandel semata, tapi karena kebutuhan ekonominya belum hilang. Ini yang sering bikin kebijakan berbasis razia terasa kayak nyapu air; capek, tapi gak pernah benar-benar kering.
Dampaknya juga tidak kecil. Biaya parkir liar itu kelihatannya receh, dua ribu, tiga ribu. Tapi kalau dikumpulin, dia jadi “biaya bocor” dalam ekonomi. Driver ojek kena, pedagang kena, pekerja kena, bahkan kamu yang cuma mau ambil uang di ATM juga kena. Biaya kecil ini terakumulasi dan akhirnya ikut masuk ke harga barang dan jasa. Jadi tanpa sadar, parkir liar ikut nyumbang ke semacam “inflasi mikro” yang tidak tercatat resmi, tapi terasa di kantong sehari-hari.
Nah, buat yang suka marah-marah “KENAPA SIH INFLASI TERUS NEGARA INI? PRESIDEN NGAPAIN AJA SEEEHHHH HARGA BARANG NAIK SEMUA INIIIHHH!”, itu salah satu penyebabnya adalah: kang parkir liar.
PARKIR LIAR ADALAH INDIKATOR KESEHATAN KOTA
Kalau ditarik lebih luas lagi, keberadaan parkir liar bisa jadi indikator kesehatan sebuah kota. Kota yang ekonominya hidup biasanya punya sistem yang rapi: lapangan kerja formal cukup, fasilitas publik memadai, dan aktivitas ekonomi berjalan tanpa banyak “gangguan informal”. Sebaliknya, kalau aktivitas seperti parkir liar, pengamen, atau pekerjaan jalanan lain sangat dominan, itu sering jadi tanda ada ketimpangan yang belum selesai. Bukan berarti kotanya gagal total, tapi ada bagian sistem yang belum berfungsi optimal.
Jadi kalau ditanya, solusi parkir liar itu apa? Jawabannya tidak sesederhana “larang” atau “razia”. Solusi yang lebih masuk akal justru struktural. Pertama, perbanyak fasilitas parkir resmi dengan harga yang masuk akal, supaya orang punya alternatif. Jangan malah bikin gedung parkir modern dengan palang pintu, tapi satu jam pertama langsung dipatok lima rebu. Udah jalannya makin jauh, panas lagi. Kedua, modernisasi sistem, pakai teknologi biar tidak bergantung pada interaksi tunai yang rawan. Ketiga, yang paling krusial: buka lebih banyak lapangan kerja formal untuk tenaga kerja dengan skill rendah, plus pelatihan yang benar-benar serius, bukan sekadar formalitas. Keempat, tentunya sebuah kota harus ramah pedestarian! Alasan orang-orang naik kendaraan pribadi ya karena kalau jalan kaki gak nyaman, panas. Bahkan pedestarian aja jadi warung lele penyet. Mau jalan kaki di mana?
Daaaannn….. parkir liar itu baru akan benar-benar hilang kalau tingkat kesejahteraan masyarakat sudah cukup tinggi. Ketika orang tidak lagi butuh uang receh untuk bertahan hidup, pekerjaan seperti ini akan ditinggalkan dengan sendirinya. Jadi ini bukan cuma soal parkir, tapi soal bagaimana negara mengelola ekonomi, distribusi peluang, dan masa depan warganya.
Intinya gini sih, parkir liar itu bukan villain utama dalam cerita kota. Dia lebih kayak karakter sampingan yang muncul karena alur ceritanya belum beres. Selama fondasinya masih bolong-bolong, dia akan selalu punya panggung. Tapi begitu sistemnya rapi, peluang kerja terbuka, dan kesejahteraan naik, pelan-pelan dia bakal hilang sendiri. Bukan karena dipaksa, tapi karena sudah tidak relevan lagi.
Mungkin suatu hari nanti, ada kang parkir yang emang beneran berseragam, ada di palang-palang pintu gedung parkir khusus, bayar non-tunai, gak ada aba-aba setengah mistis karena muncul tiba-tiba di belakangmu, terus kamu malah kangen dan bilang, “Lho, kok sepi?”
Ya… karena sistemnya akhirnya beneran jalan.
So, good luck and have a nice day ya!




33 Komentar
Makin kesini memang makin mahal aja ya kak. Apalagi inflasi terutama indonesia, sangat tinggi sekali. Barang barang dan apapun itu dijadikan ladang cuan sama oknum 😴
BalasHapusPernah sekali menulis tentang 'tukang parkir' dan saya juga menyebutnya sebagai pekerjaan paling mudah di dunia. Resikonya? ditanggung pengendara sendiri. ~hehe
BalasHapusTerkait upaya penyelesaian, saya sangat setuju dengan Mas Mario, bahwa problematika ini tidak bisa sesederhana main gusur saja. Perlu ada perbaikan struktural dan pasti memakan waktu. Sayangnya, kita bukan unable, tapi unwilling saja. Secara, perbaikan struktural itu pasti mengubah banyak aspek, memakan sumberdaya secara besar, dan melibatkan banyak sekali pihak. It's just hard, not impossible.
Soal parkir liar ini memang PR besar buat negara kita. Banyak yang sudah terlena dengan pekerjaan ini yang menghasilkan income besar tapi no need skill ini. Di lain pihak juga banyak yang beranggapan, tak apalah cuma duaribu doang. Tapi ternyata ga sesimple itu, ya problematikanya.
BalasHapusBerharap ada niat baik dari dinas terkait untuk membenahi perkara parkir liar ini biar kita ga merasa keluar dari Indomart trus merasa was-was serasa akan didatangi makhluk halus yang datang tiba-tiba datang dari belakang sambil membunyikan peluit
Oooooh zaman pemerintahan Pak Ali Sadikin dulu ada institusi Parkir Jaya? Nah, sebenarnya si tukang parkir ini kayak siluman ya. Cukup terima duit trus dia kabur wkwkwkwwk. Masih mending kalau beneran membantu ke arah kanan, kiri atau lurus atau memotong laju kendaraan yang sedang lalu-lalang. Enaknya sih dihapuskan saja ya. Seringkali kang parkir makin tambah riweuh aja :(
BalasHapusPraktis, mudah, tidak murah, tidak aman. Itulah parkir liar. Harga sama saja spt parkir resmi, resiko hilang, resiko tilang itu nyata.
BalasHapusFenomena parkir liar ini memang sering ditemui dan kadang bikin situasi jadi kurang nyaman. Aku sendiri pernah merasa terganggu karena harus membayar di tempat yang tidak resmi. Pembahasan seperti ini penting supaya makin banyak yang sadar dan lebih kritis terhadap kondisi di sekitar
BalasHapusPernah ngalamin, masuk ke minimarket, ambil ATM ga sampai 5 menit balik ke motor, helm raib. Bukan helm baru tapi masih bagus, dan ada si abang legend di situ. Katanya enggak tahu...huhuhu. Lah giliran orang pergi dia kejar minta dua ribu, tapi helm ditinggal bentar , raib, dia ga mau tahu...
BalasHapusMemang penyelesaian yang efektif memerlukan kombinasi antara penegakan hukum yang konsisten, penyediaan lahan parkir yang memadai, dan pemberdayaan juru parkir informal ke sektor yang lebih formal
Asli, judulnya bikin langsung pengen klik. Hahaha. Bener banget, urusan parkir liar ini emang 'gurih-gurih ngeri' ya, antara praktis tapi sebenernya bikin emosi juga kalau udah bikin macet. Makasih ya Mas udah ngangkat isu receh tapi penting ini dengan gaya tulisan yang asyik banget.
BalasHapusKalau belanja di 3 tempat, parkir udah 6 ribu di lokasiku. Tapi sejauh pengalaman saya, tukang parkir sangat memudahkan buat emak-emak seperti saya yang sering kesulitan ngeluarin motor dari deretan, atau sekedar mau nyebrang di jalan ramai. Paling ga enak kalua tukang parkirnya galak atau acuh tak acuh cuma nerima bayaran.
BalasHapusMasalah Kang Parkir liar ini sepertinya memang masalah klasik di mana2 ya..syusyaaah sekali memberantasnya. Semoga segera dapat solusinya..
BalasHapusFenomena parkir liar ini memang sering dianggap sepele, padahal dampaknya cukup kompleks, mulai dari kemacetan sampai rasa tidak nyaman bagi pengguna jalan. Bahkan di banyak kota besar, praktik ini sudah jadi masalah sosial yang sulit diberantas karena melibatkan banyak faktor.
BalasHapusIbarat "lumut di lemari," mereka tumbuh karena kondisi lingkungannya memang mendukung. Semoga ke depannya tata kota kita lebih manusiawi dan ramah pedestrian, supaya "aba-aba setengah mistis" di minimarket pelan-pelan berganti menjadi sistem yang lebih menyejahterakan semua pihak.
BalasHapusTukang parkir. Aku sebenarnya nggak masalah sama tukang parkir. Masalahnya, mereka tuh ada tapi nggak ada.
BalasHapusMaksud hati kan kalau ada kang parkir tuh seenggaknya bikin pikiran tenang. Tapi, yang terjadi adalah mereka akan datang hanya ketika kita ingin bawa kendaraan pergi.
Lalu, kadang ada yang nyolot banget sama biaya parkir yang mesti dibayar. Padahal, mereka nggak memberikan jaminan keamanan apapun.
Tulisan ini terasa nyambung dengan realita sehari-hari, karena parkir liar memang masih jadi masalah yang bikin resah banyak orang. Gaya bahasanya ringan, tapi tetap mengangkat isu yang serius soal ketertiban dan ruang publik.
BalasHapusmakin mahal tapi kalo rusak atau amit amit ilang, tetep gak tanggung jawab :(
BalasHapusHama kota besar adalah parkir. Saat ini penertiban nya sangat sulit. Karena pekerjannya gampang dan pendapatannya jangan tanya. Fyi, jual beli lahan parkir liar itu marak dari dulu. Sepetak lahan parkir di toko modern harganya 50 juta lho.
BalasHapusLagi-lagi memang permasalahannya tentang ekonomi dan tingkat kesejahteraan di masyarakat. Ditambah lagi penanganan ketertibannyak kayak masih setengah-setengah. Kadang ditegasin, kadang dibiarin. Yang ngeselin itu kalau harga parkirannya udah digetok banget.
BalasHapusiih kok banyak banget pengalaman yang relate nih kak, iya bener pas udah parkir depan minimarket atau tukang batagor, tiba tiba nongol nih " pria legend " entah darimana, padahal tadi gak ada, wkwkwkwk.
BalasHapussaya setuju, urusan kang parkir ini ribet dan kompleks, mau dibilang kriminal gak ada landasan hukumnya dan udah menjamur aja gitu. Dan saya setuju gak bakalan ada kang parkir kalau masyarakatnya sejahtera. Ini tuh emang beneran jadi indikasi kesejahteraan masyarakat juga sih.
Idealnya memang ada undang-undangnya tapi, ini bisa jalan kalau masrakat juga punya pekejaan pengganti profesi ini.
waaah, GOOD ARTICLE!! thank you udah bahas soal "remeh" tapi "relate" banget dengan kegalauan kita setiap hari ya. bisa banget kita bahas hal yang kayaknya gak penting tapi kalau dibahas ternyata sepernting itu.
Sedikit berbagi cerita, di kota kecil saya belum lama ini pemda-nya menertibkan parkir di kawasan pelabuhan yang jadi pintu masuk utama karena ini kawasan kepulauan. Menggunakan sistem parkir gate ala mall, yang lebih jelas perhitungan waktu dan biayanya terutama bagi yang menginapkan kendaraan di kawasan pelabuhan.
BalasHapusTapi apa? Ternyata ada demo penolakan! Karena ini menggerus penghasilan 'gurih' para juru parkir liar yang bisa beroperasi.
hmmm, kayaknya di mana-mana termyata sama juga ya permasalahan tentang parkir ini.
BalasHapusparkir yang keberadaannya seringnya meresahkan, yang tiba-tiba nongol tapi gak ngapa-ngapain gitu, arahin orang keluar dari parkiran kek atau apalah.
semoga deh ya, sistem bisa cepat rapi dan lapangan pekerjaan juga jadi lebih banyak biar gak ada lagi "siluman dadakan" kalau kita keluar dari suatu tempat.
Saya yang bukan pemakai sepeda motor atau mobil saja merasa terganggu kalau liat parkir liar ini. Merasa kasihan pada mereka yang harus sering belanja dan parkir berbayar. Kerasa banget nguras dompet lho itu
BalasHapusAgak sebel sih kalo ngeliat pungli parkir. Pas kita kebingungan, eh mereka ngga muncul. Kalo kita mau pulang eh langsung pritttt. Dan bener, keliatan bgt kalo ngga sejahtera negeri ini. Jadi masih banyak yg memanfaatkan momen parkir liar. Hufft.
BalasHapusmas coba deh datang ke medan, jukir nya buat emosi hahaha, ntah kapan dia jaga kendaraan kita, begitu kita mau parkir dia gak nampak, tapi begitu mau pergi, dia datang, dan jangan heran setiap lokasi berhenti ada parkir.
BalasHapusWah, ini perspektifnya menarik banget sih 👀 Biasanya orang langsung kesel lihat parkir liar, tapi di sini diajak lihat dari sisi yang lebih dalam—bahwa ini juga bagian dari masalah struktural. Jadi nggak cuma hitam-putih.
BalasHapusBehind the scene-nya, ternyata tukang parkir liar itu hrs setoran ke bos tertentu. Omongannya sih jatah buat yg di sono. Ternyata yg pny kawasan itu. Dan ini terorganisir sih. Cuannya gede loh. Dulu ada parkir liar yg di belakang Sarinah. Aku suka naruh motor di situ krn tarifnya flat goceng. Beda dgn tarif di gedung yg itungannya seceng sejam. Kalo di sana 6 jam ya pasti kena 6.000 dah.
BalasHapusSepakat sih kalo parkir tuh diatur dgn tarif wajar. Dan yg pasti hrs aman dr pencurian sih. Kan lbh enak gt. Lbh mahal dikit tapi motor/mobil lbh aman, terjaga dr panas dan hujan. Drpd parkir liar yg ga beraturan. Mana ngutip tarif seenaknya lg.
Sekarang ini jujur saja aku kurang suka bayar parkir. Di daerahku naik coba. Cuma mampir sebentar, udah ditarik, hwhwhwh
BalasHapusJadi biasanya aku kalau ke beberapa tempat yang sekiranya saling dekat, ya parkir di tengah-tengah. Lalu jalan kaki. Kadang milih di masjid karena sekalian solat. Gak bayar parkir, tapi ngasih infak saja
Parkir liar ini memang bagai dua sisi mata uang. kadang membantu tapi tidak jarang juga sebenarnya tidak begitu membantu karena hanya sekedarnya saja membantu parkirnya. Apalagi sama tukang parkir yang pas kita datang tidak ada eh pas mau pulang tiba-tiba ada. Semoga pemerintah daerah punya solusi yang bagus untuk menangani parkir liar ini.
BalasHapusDi jalan2 tu kalau emang parkirnya resmi sih nggak pa pa, ikhlas aja. Soalnya ada kejelasan kan siapa yang jaga kendaraan kita. Tapi yang ngeselin tu parkir2 liar, bener2 deh kadang kita ke toko cuma beli barang yang nggak banyak dan sebentar, eh dipaksa bayar parkir sama tukang parkir liar.
BalasHapusBeli makanan juga gitu, misal nasi pecel harga nggak sampai 20 ribu, keuntungan pedagang tak seberapa, eh juru parkir liar nggak pakai modal masak, sewa tempat, dll, dapat 5000.
Apalagi kadang mereka ini dari ormas2 tertentu, parahnya watak aslinya kek preman, yang sayangnya dipelihara negara heuheu.
Kyknya bener karena masalah di belakang munculnya juru parkir liar ini begitu kompleks, sebab kegagalan pemerintah juga yang nggak bisa menyediakan lapangan pekerjaan yang layak.
Ternyata ada sejarahnya kenapa muncul parkir liar.
BalasHapusKalau mau ditertibkan, harus ada regulasi yang secara tegas mengaturnya. Dan bila ingin bener² mantap bisa saja ditarik menjadi profesi yang istilahnya diakui gitu. Tentunya bisa dibicarakan dengan baik, walau kayaknya untuk membicarakan ini entah kapan ya
Akutu menghindari banget indomart atau alfamart yang ada parkir punglinya ginii..
BalasHapusHuhuhu.. dan sering banget kepergok.. padahal pas dateng mah... ga ada yaa.. pas mau mundurin kendaraan, naha mendadak nongol?
Ya bgitulaah...
Kadang kita cuma butuh transparansi yaa.. maksudnya sama-sama ridlo gitu kan enaak.. mereka kerja dan saya bayar atas jasa yang dilakukan.
paling kesel memang sama kang parkir yang gaib. pas datang nggak ada siapa-siapa pas mau balik ke motor eh tiba-tiba ada orangnya. mana kadang kalau misal belanja ke beberapa toko itu ada aja tukang parkirnya bayangin 4 toko 4 kali bayar parkir. hedeh
BalasHapuspaling sebel, kalau mau parkir ga ada orang, e pas giliran mau pergi tau-tau muncul si pak parkir, berasa gondok
BalasHapuswkwkwk gaib ya istilahnya
berharap suatu hari masalah perparkiran ini lebih baik lagi. di Surabaya sudah ada ebberapa kantong parkir tapi sepertinya belum difungsikan setiap hari hanya jika ada momen tertentu
Nah iya, kang parkir liar ini semakin menjamur dan merajalela. Di setiap mini market pun ada. Kalau di hitung-hitung dalam sehari bisa beneran banyak banget keluar uang buat parkir buat yang suka bepergian pake kendaraan pribadi. Awalnya receh kok di total lumayan banget.
BalasHapusSemoga ya kedepannya ada kejelasan dan penertiban secara serius.