Gak Bisa Basa Enggres!


Hello, everybody!
Let me introjyuz mai selp.... gak bisa basa enggress!

Kebanyakan dari kita pasti menyadari bahwa mempelajari Bahasa Inggris ini kok ya ribeeeettt banget, mana ini bahasa internasional lagi. Kenapa gak yang simple simple aja gitu kayak Bahasa Indonesia?? Kenapa harus ada past tense, continous tense, chibaku tense, shinra tense... eh ini mah nama-nama jurus di animek naruto.

Intinya, Bahasa Inggris itu cukup sulit bagi sebagian orang! Sebenarnya sih tidak sulit, hanya saja karena gak terbiasa aja. Padahal hampir tontonan film yang ikonik itu yaaa dari Amrik, apalagi sebelum drakor dan dracin ini menyerang kasanah perfilman jagat raya.

Tapi tenang, di sini saya akan menjelaskan bagaimana cara mempelajari Bahasa Inggris, dan mengapa Bahasa Inggris ini kok kayak susaaaaaahhh banget!


16 Tenses Membuat Kita Takut Belajar Bahasa Inggris

Kalau ada satu hal yang paling berhasil membuat jutaan anak Indonesia takut belajar bahasa Inggris, menurutku itu bukan pronunciation, bukan vocabulary, bahkan bukan listening yang isinya orang Amrik ngomong kayak dikejar setan. Penyebab utamanya justru sebuah tabel berisi enam belas kotak yang ditempel di papan tulis sejak kita SMP. Di situlah hidup kita berubah. Guru mulai menulis "Present Perfect Continuous Tense" dengan penuh keyakinan, sementara separuh isi kelas sudah mulai menyesali kenapa dulu waktu TK tidak memilih menjadi petani saja.

Lucunya, semakin lama saya belajar linguistik, semakin saya curiga bahwa enam belas tenses itu lebih mirip...... rumus-rumus geometri. Hampir kita semua tumbuh dengan keyakinan bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang memiliki enam belas waktu berbeda, seolah-olah orang Inggris atau Amrik sebelum berbicara harus membuka kalender, melihat jam tangan, lalu berdiskusi dengan dirinya sendiri, 

"Sebentar, ini saya sedang makan, sudah makan, atau sedang sudah makan yang berlangsung sampai sekarang?"

Padahal tidak ada manusia yang bekerja seperti itu. Coba bayangkan ada seorang anak berusia tiga tahun di London yang baru belajar bicara. Tidak mungkin dia menghampiri ibunya sambil berkata, 

"Mother, I apologize. I haven't mastered the Present Perfect Continuous Tense yet, therefore I cannot communicate my hunger." 

Yang terjadi justru jauh lebih sederhana. Dia cuma bilang, 

"Hungry."

Salah? Ya mungkin aja sih. Tata bahasanya berantakan? Bisa jadi sih. Tapi semua orang mengerti. Kita juga ngerti maksudnya kan? Paham kan intinya si bocil itu laper gitu.

Di situlah aku mulai berpikir bahwa mungkin yang salah bukan cara kita belajar, melainkan cara kita diajarkan untuk memandang bahasa. Sejak kecil kita dibiasakan menganggap bahasa sebagai kumpulan rumus, padahal bahasa adalah alat bertahan hidup. Tidak ada manusia yang menghafal teori keseimbangan sebelum belajar naik sepeda. Tidak ada bayi yang mempelajari anatomi lidah sebelum mengucapkan kata pertama. Anehnya, ketika masuk kelas bahasa Inggris, kita justru dipaksa menjadi ahli tata bahasa sebelum berani membuka mulut.

Yang lebih kocak lagi, istilah "enam belas tenses" sendiri sebenarnya hanyalah jalan pintas untuk mempermudah proses belajar di sekolah. Dalam linguistik, persoalannya jauh lebih sederhana sekaligus lebih menarik. Yang benar-benar berbicara tentang waktu hanyalah past, present, dan future, bahkan sebagian ahli hanya menganggap bahasa Inggris punya dua, yaitu past dan non-past. Sementara perfect, continuous, atau perfect continuous bukan sedang membahas kapan sesuatu terjadi, melainkan bagaimana sebuah aktivitas berlangsung. 

Ironisnya, mungkin masalah terbesar kita bukan grammar sama sekali. Masalah terbesar kita adalah rasa takut terlihat salah. Kita takut salah tenses, takut salah pronunciation, takut diketawakan teman, takut dianggap bodoh. Akhirnya kita memilih diam. Kita menghabiskan belasan tahun mempelajari bahasa Inggris, tetapi tetap gugup ketika ditanya turis asing di Malioboro: 

"Excuse me, where is the toilet?"

Kalau dipikir-pikir, itu cukup tragis. Kita seperti orang yang menghafal seluruh buku manual berenang, memahami hukum Archimedes, tahu sejarah kolam renang Olimpiade, bahkan hafal merek pelampung terbaik di dunia, tetapi tidak pernah benar-benar menceburkan diri ke air karena takut gaya bebasnya jelek.

 

Jangan-Jangan yang Aneh Itu Bahasa Indonesia

Semakin lama saya belajar linguistik, semakin saya merasa ada sesuatu yang sangat lucu. Selama ini kita selalu menyalahkan bahasa Inggris karena dianggap terlalu banyak aturan, terlalu banyak tenses, terlalu banyak perubahan kata kerja, sampai-sampai ada orang yang baru melihat tabel grammar sudah ingin resign dari proses belajar. Padahal setelah dipikir-pikir lagi, mungkin yang membuat kita pusing bukan bahasa Inggrisnya, melainkan karena sejak kecil kita dibesarkan oleh bahasa yang kelewat santai gitu. Iya, bener... Bahasa Indonesia kita tercinta.

Coba bayangkan ada seorang teman bilang ke kamu gini, 

"Aku makan ayam."

Sudah. Hanya tiga kata itu saja. Kalau kalian denger hal seperti itu, pertanyaan pertama yang mungkin muncul justru bukan, "Ayamnya enak nggak?", melainkan, "Kapan?"

Tadi? Kemarin? Sekarang? Besok? Atau ini cuma pengakuan bahwa sepanjang hidupnya dia memang suka makan ayam?

Kalimat itu sama sekali tidak memberi petunjuk. Otak kita yang bekerja lembur mengisi bagian yang kosong. Kalau konteksnya sedang ngobrol makan siang, kita menganggap itu terjadi sekarang. Kalau dikirim jam sebelas malam, mungkin kita mengira itu kejadian beberapa jam yang lalu. Bahasa Indonesia menyerahkan sebagian besar pekerjaannya kepada konteks, lalu pergi begitu saja tanpa rasa bersalah gitu. Itulah kenapa, masyarakat kita itu gemar berbohong. Kenapa? Karena sangat mudah berbohong menggunakan Bahasa Indonesia!

Nah, sekarang coba lihat bahasa Inggris. Orang itu tidak akan bilang "I eat" untuk semua situasi. Dia akan bilang "I ate", "I eat", atau "I will eat", dan bahkan sebelum kalimatnya selesai kita sudah mendapat bocoran tentang kapan peristiwa itu berlangsung. Bahasa Inggris seperti teman yang terlalu rajin memberikan detail, sementara bahasa Indonesia lebih mirip teman yang cerita setengah-setengah lalu menyuruh kita menebak sisanya. Makanya kita gampang dikibulin oleh masyarakat sendiri, jarang ada orang Amrik ngibul, atau apalagi bahasa yang memiliki gender seperti Jerman dan Perancis. Jerman apalagi yang bahasanya dibalik-balik bikin tambah pusing, akan menyusahkan warga negaranya untuk berbohong.

Di sinilah aku mulai curiga kenapa pelajaran grammar terasa seperti hukuman sosial bagi banyak orang Indonesia. Kita tumbuh menggunakan bahasa yang tidak terlalu peduli apakah sesuatu terjadi kemarin atau besok. Kata "makan" tetap "makan". Kata "tidur" tetap "tidur". Kata "pergi" juga santai saja tidak berubah bentuk. Mau kiamat besok pagi atau baru pulang dari minimarket, katanya tetap sama. Tiba-tiba kita dipindahkan ke bahasa yang sedikit lebih cerewet soal waktu, lalu kita marah-marah karena merasa dipersulit.

Padahal kalau kita mau sedikit jalan-jalan keluar, kita akan menemukan kenyataan yang lebih mengganggu lagi: justru kebanyakan bahasa di dunia memang punya cara sendiri untuk menandai waktu. Bahasa Prancis mengubah bentuk kata kerja. Bahasa Spanyol juga begitu. Bahasa Arab bahkan bisa membuat kita bertanya-tanya kenapa satu kata harus berubah sebanyak itu. Yang santai seperti bahasa Indonesia justru tidak sebanyak yang kita kira.

Ironisnya, selama bertahun-tahun kita diajari bahwa grammar adalah sesuatu yang harus dihafal, bukan dipahami. Guru kita menggambar enam belas kotak di papan tulis, kita menyalinnya ke buku catatan dengan stabilo warna-warni, lalu percaya bahwa itulah bahasa Inggris. Persis seperti orang yang ingin belajar memasak tetapi tiga bulan pertama hanya disuruh menghafal nama peralatan dapur. Dia hafal mana spatula, whisk, ladle, dan saucepan, tetapi ketika disuruh bikin telur dadar malah bingung nyalain kompor.

Semakin dipikirkan, semakin terasa bahwa masalah kita bukan pada tenses, melainkan pada cara kita mengelompokkannya. Kita diberi tahu bahwa ada enam belas makhluk berbeda yang masing-masing punya rumus sendiri, padahal kalau dipreteli satu per satu, semuanya ternyata cuma bermain di dua pertanyaan sederhana: kapan sesuatu terjadi dan bagaimana keadaan aktivitas itu. Sisanya hanyalah kombinasi, sama seperti nasi goreng, mie goreng, atau nasi mawut yang sebenarnya cuma bahan yang diacak dengan cara berbeda.

Dan mungkin di sinilah kesalahan terbesar pendidikan bahasa kita. Kita sibuk menghafal hasil akhirnya, tetapi tidak pernah diajak memahami logikanya. Akibatnya, begitu melihat tulisan "Present Perfect Continuous", otak langsung bereaksi seperti melihat tagihan pinjaman online: panik dulu, berpikir belakangan. Padahal kalau nama panjang itu dibongkar pelan-pelan, isinya tidak seseram yang kita bayangkan.

Ciyus deh, makanya lanjut baca...


Kesalahan Terbesar: Semua Dicampur Jadi Satu

Ane semakin yakin bahwa salah satu penyebab banyak dari kita trauma belajar grammar adalah kebiasaan kita mencampur semua hal ke dalam satu keranjang yang sama. Mungkin ini memang budaya nasional. Kita mencampur es teh dengan gorengan, mencampur mie instan dengan nasi, bahkan mencampur urusan pekerjaan dengan grup WhatsApp keluarga, eh gak tau ding kalau ini. Jadi ketika bertemu bahasa Inggris, kita melakukan hal yang sama: semua langsung dimasukkan ke kotak bernama "tenses".

Padahal kalau dipikir-pikir, itu sama anehnya seperti menyebut mobil sebagai "ban". Memang ban adalah bagian dari mobil, tetapi bukan berarti seluruh mobil adalah ban, itu mah jadinya perahu ban. 

Anehnya, selama bertahun-tahun kita percaya bahwa Present Perfect Continuous Tense adalah satu makhluk utuh yang harus dihafal rumusnya, seolah-olah Tuhan menciptakannya dalam satu paket lengkap seperti mie instan lengkap dengan bumbu dan minyaknya.

Semakin ogut membaca linguistik, semakin ogut sadar bahwa cara berpikir seperti itu justru membuat semuanya terlihat lebih rumit daripada kenyataannya. Bahasa Inggris sebenarnya sedang membicarakan dua hal yang berbeda. Yang pertama adalah waktu, sesederhana itu. Kejadiannya sudah lewat, sedang berlangsung sekarang, atau akan terjadi nanti. Tidak lebih rumit daripada melihat kalender.

Yang kedua justru bukan soal waktu, melainkan soal bagaimana aktivitas itu berlangsung. Apakah aktivitasnya sederhana dan hanya dinyatakan sebagai fakta? Apakah sedang berjalan? Apakah sudah selesai tetapi efeknya masih terasa? Atau malah sudah berlangsung cukup lama dan masih berlanjut sampai sekarang? Bahasa Inggris ternyata cerewet bukan karena suka menyiksa ente-ente semua, tetapi karena dia memang diciptakan untuk memberikan informasi tambahan.

Bayangkan ada seorang teman datang ke rumahmu sambil berkata, "Aku makan."

Kamu pasti merasa ada yang kurang. Makan apa? Makan kapan? Masih makan atau sudah selesai? Baru sekali atau dari tadi? Bahasa Indonesia biasanya santai menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu. Kita tinggal menambahkan "lagi", "udah", atau "tadi" kalau memang diperlukan. Selebihnya kita berharap lawan bicara cukup pintar untuk memahami konteksnya.

Bahasa Inggris memilih jalan yang berbeda. Tidak cukup bilang "aku makan". Dia ingin memastikan kamu tahu apakah dia sedang makan, sudah makan, sudah selesai makan tetapi hasilnya masih relevan sekarang, atau sudah makan sejak tadi dan aktivitas itu baru saja berhenti. Informasi itu bukan sekadar hiasan atau sesuau dibikin ribet lah, tapi itu bagian dari cara mereka melihat sebuah peristiwa.

Di sinilah aku mulai merasa bahwa istilah "enam belas tenses" lebih mirip nama paket internet daripada konsep linguistik. Semua digabung menjadi satu produk, padahal isinya adalah kombinasi dari beberapa komponen yang sebenarnya bisa dipahami secara terpisah.

Misalnya begini. Bayangkan kita sedang bermain game ya, misal GTA Online deh. Ada dua pertanyaan sederhana yang selalu muncul. Pertama, kapan quest ini terjadi? Kemarin, sekarang, atau nanti?

Kedua, status quest-nya bagaimana? Baru mulai, sedang berjalan, sudah selesai, atau sudah selesai tetapi efeknya masih memengaruhi cerita?

Selesai. Gitu doangggggggg...
Otak kita sebenarnya setiap hari melakukan proses itu tanpa sadar, yang berubah hanya medianya.

Karena itulah saya mulai tidak terlalu suka menghafal enam belas kotak sekaligus. Cara itu memang bisa membuat seseorang lulus ujian TOEFL, tetapi jarang membuat seseorang benar-benar paham. Jauh lebih mudah kalau kita memisahkan dua sumbu yang berbeda. Sumbu horizontal adalah waktu. Sumbu vertikal adalah aktivitas. Ketika keduanya bertemu, lahirlah kombinasi-kombinasi yang selama ini kita kira "basa enggres apa banget dah???".

Lucunya, setelah dipisahkan seperti itu, Present Continuous tidak lagi terasa sebagai mantra kuno dari Hogwarts. Dia cuma berarti "sekarang" ditambah "sedang berlangsung". Past Perfect juga kehilangan aura mistisnya. Dia hanya berarti "masa lalu" ditambah "sudah selesai". Bahkan Future Perfect yang namanya terdengar seperti gelar profesor ternyata tidak lebih dari "masa depan" ditambah "sudah selesai ketika titik waktu itu tiba".

Semakin lama saya melihatnya seperti ini, semakin saya merasa bahwa grammar sebenarnya tidak sesulit yang kita bayangkan. Kita hanya terlalu lama disuruh menghafal menu restoran tanpa pernah diberi tahu bahwa semua makanan di sana berasal dari bahan yang sama: nasi, mie, ayam, telur, dan beberapa bumbu yang diputar-putar sampai namanya terdengar "makanan apa iniiiihhhhh????".

Mungkin, untuk pertama kalinya sejak SMP, Present Perfect Continuous mulai terlihat seperti sesuatu yang masuk akal, bukan hal sulit yang muncul setiap kali besok ada ulangan.

 

Ternyata Grammar Itu Cuma Main Matriks

Ada satu kebiasaan, yakni kita suka sekali menghafal hasil akhir, tetapi malas memahami pola. Makanya waktu kecil kita hafal perkalian 7 × 8 = 56, tetapi begitu disuruh menjelaskan kenapa hasilnya 56, otak langsung berpindah dimensi. Yang penting hafal dulu, urusan paham belakangan. Entah kenapa kebiasaan itu ikut terbawa ketika belajar bahasa Inggris.

Lihat saja bagaimana kita diajari tenses di sekolah. Guru datang dengan tabel besar berisi enam belas kotak, lalu berkata dengan penuh optimisme, "Anak-anak, ini tinggal dihafalkan saja." Kalimat "tinggal dihafalkan saja" itu mungkin adalah salah satu bentuk kekerasan psikologis yang paling diterima masyarakat. Karena setelah itu kita menghabiskan waktu bertahun-tahun menghafal Present Perfect, Past Perfect, Future Perfect Continuous, dan nama-nama lain yang terdengar seperti spesialis penyakit dalam.

Padahal kalau semua embel-embel itu dilepas, yang tersisa ternyata sangat sederhana.

Bayangkan ada dua buah sumbu seperti pelajaran matematika yang dulu bikin kita berkeringat. Sumbu pertama adalah waktu. Isinya cuma tiga: masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Tidak ada masa depan plus bonus cashback atau masa lalu edisi premium. Hanya tiga itu saja.

Lalu di sumbu yang satunya lagi ada jenis aktivitas. Apakah aktivitas itu hanya dinyatakan sebagai fakta biasa? Apakah sedang berlangsung? Ataukah sudah selesai? Lagi-lagi cuma tiga. Sesederhana menu warteg: nasi, sayur, lauk. Yang bikin pusing biasanya bukan menunya, tetapi kita mengambil semuanya sekaligus.

Begitu dua sumbu itu dipertemukan, tiba-tiba lahirlah sembilan kombinasi yang selama ini kita hafal mati-matian.

Masa sekarang ditambah aktivitas biasa? Present Simple.
Masa lalu ditambah aktivitas yang sedang berlangsung? Past Continuous.
Masa depan ditambah aktivitas yang sudah selesai? Future Perfect.

Selesai. Tidak perlu membakar kemenyan sebelum ujian grammar.

Semakin saya memikirkan ini, semakin saya merasa bahwa guru bahasa Inggris zaman dulu terlalu baik hati. Mereka langsung memberikan hasil akhirnya tanpa menunjukkan bagaimana hasil itu dibuat. Persis seperti guru matematika yang tiba-tiba menulis rumus luas lingkaran tanpa pernah menjelaskan kenapa ada π di sana. Murid akhirnya menghafal, lulus ujian, lalu tiga bulan kemudian lupa semuanya karena otaknya tidak pernah menemukan polanya.

Padahal otak manusia sangat suka pola. Coba pikirkan kenapa kita bisa hafal lirik lagu yang bahkan tidak pernah sengaja dihafalkan. Kenapa kita bisa ingat jalan pulang tanpa membuka Google Maps setiap hari. Kenapa kita tahu mie instan matang setelah tiga menit tanpa membawa stopwatch ke dapur. Jawabannya sederhana: otak lebih suka menemukan pola daripada menghafal daftar.

Sayangnya, ketika belajar grammar, kita justru dipaksa melakukan kebalikannya. Kita disuruh menghafal enam belas nama yang terlihat berdiri sendiri, padahal semuanya adalah hasil perkawinan silang dari dua konsep yang sangat sederhana: waktu dan aktivitas.

Di titik ini saya mulai curiga bahwa grammar sebenarnya tidak rumit. Yang rumit adalah cara kita menyajikannya. Kita seperti menyuruh anak SD menghafal seluruh kombinasi menu restoran cepat saji, padahal cukup jelaskan bahwa burger itu roti plus daging, cheeseburger itu burger ditambah keju, dan double cheeseburger itu tinggal menambah satu lapis daging lagi. Begitu pola itu dipahami, seratus variasi menu pun tidak lagi terlihat menakutkan.

Nah, di sinilah masalah baru muncul. Kalau semuanya sesederhana menggabungkan waktu dan aktivitas, kenapa masih ada makhluk bernama Present Perfect Continuous atau Past Future yang namanya saja sudah cukup membuat tekanan darah naik?

Karena ternyata bahasa Inggris tidak puas hanya memberi tahu kapan sesuatu terjadi dan bagaimana aktivitasnya berlangsung. Kadang bahasa ini juga ingin menceritakan hubungan antara satu kejadian dengan kejadian lain. Dan begitu dua peristiwa mulai saling bertabrakan, lahirlah kombinasi-kombinasi yang selama ini dianggap wadididaw oleh anak SMA seluruh Indonesia.

Untungnya, setelah kita sampai di titik ini, monster tenses itu sudah tidak terlalu menyeramkan. Kita sudah tahu bahwa di balik nama yang panjang itu, sebenarnya hanya ada logika sederhana yang sedang memakai kostum berlebihan.


 

Cara Melihat Sebuah Kejadian

Setelah beberapa hari memikirkan soal grammar, saya akhirnya menemukan satu analogi yang mungkin paling masuk akal. Entah kenapa guru bahasa Inggris waktu saya sekolah tidak pernah menjelaskannya seperti ini. Mungkin karena mereka lebih sibuk memastikan seluruh kelas hafal rumus daripada memastikan seluruh kelas benar-benar paham.

Bayangkan setiap kejadian di dunia ini direkam oleh sebuah kamera CCTV. Misalnya ogut9 sedang makan mi ayam.

Kejadian yang direkam sebenarnya cuma satu. Saya duduk, mengaduk kuah, menambahkan sambal terlalu banyak, lalu menyesal lima menit kemudian. Tidak ada empat versi saya yang sedang makan, atau semesta paralel di mana saya makan dalam Present Simple, lalu pindah ke Present Continuous, kemudian berevolusi menjadi Present Perfect. Kejadiannya tetap satu, kan?

Yang berubah hanyalah sudut pandang orang yang melihat "rekaman" itu.

Kalau seseorang hanya ingin menyatakan fakta, dia cukup bilang, "Saya makan mi ayam." Dia tidak peduli prosesnya, tidak peduli hasilnya, tidak peduli apakah kuahnya habis atau masih tersisa, yang penting aktivitas itu ada. Dalam dunia grammar, inilah yang kita sebut simple.

Sekarang bayangkan kamera dipause tepat ketika saya masih memegang sumpit dan mi masih menggantung di udara. Fokusnya bukan lagi fakta bahwa saya makan, tetapi prosesnya yang sedang berlangsung. Tiba-tiba kalimat itu berubah menjadi continuous. Aktivitasnya sama, hanya "kamera" kita berhenti di tengah adegan.

Lalu ada sudut pandang lain, kamera diputar sampai selesai, mangkuk sudah kosong, saya sudah bersandar sambil menyesali keputusan menambah lima sendok sambal, tetapi hasil dari aktivitas itu masih terasa sampai sekarang. Perut kenyang, lidah kepanasan, dan saya mulai mencari es teh. Nah, inilah yang disebut perfect. Fokusnya bukan lagi proses, melainkan hasil yang masih relevan pada titik waktu tertentu.

Lucunya, sebagian besar kita mengira perfect berarti "masa lalu". Padahal tidak juga. Perfect itu lebih mirip status sebuah pekerjaan. Bayangkan temanmu mengirim pesan, "Bro, tugasnya sudah selesai." Kalimat itu tidak memberi tahu kapan dia mengerjakannya. Bisa lima menit yang lalu, bisa semalam, bisa bahkan minggu lalu. Yang ingin disampaikan hanya satu: sekarang tugas itu sudah beres.

Di sinilah saya merasa nama-nama grammar sering kali lebih menyeramkan daripada konsepnya. Present Perfect terdengar seperti mantra pemanggil naga, padahal kalau diterjemahkan secara brutal cuma berarti, "Sekarang kita sedang melihat sebuah hasil yang sudah selesai."

Present Continuous juga tidak kalah sederhana. Artinya cuma, "Sekarang kita sedang melihat prosesnya."
Past Continuous? "Kalau kita mundur ke masa lalu, aktivitas itu sedang berlangsung."
Future Perfect? "Kalau suatu saat nanti kita sampai di titik tertentu, aktivitas itu sudah selesai."

Selesai, yang berubah cuma posisi "kamera" aja.

Semakin lama saya melihat grammar seperti ini, semakin saya merasa bahwa bahasa Inggris sebenarnya sangat masuk akal. Yang tidak masuk akal adalah cara kita menghafalnya. Kita sibuk mengingat enam belas nama besar tanpa pernah diajak melihat bahwa semuanya hanyalah permainan perspektif.

Mungkin di situlah letak keindahan sebuah bahasa. Kalau dari masa lalu, ya lihat dari masa lalu. Kalau dari masa sekarang, ya lihat dari masa sekarang. Kalau yang ingin ditekankan adalah prosesnya, lihat prosesnya. Kalau yang penting hasilnya, lihat hasilnya.

Sesederhana itu.

Sayangnya, selama bertahun-tahun kita justru lebih sibuk menghafal "nama kameranya" daripada menikmati "film yang sedang diputar".

So, good luck and have a nice day!



 

 


18 Komentar

  1. Analogi kamera CCTV buat menjelaskan simple, continuous, dan perfect ini kreatif banget, langsung kebayang jelas. Setelah baca ini rasanya 16 tenses jadi nggak semenakutkan dulu.

    BalasHapus
  2. Hahaha, judulnya langsung bikin senyum. Aku juga termasuk yang kadang ngerti kalau baca, tapi begitu disuruh ngomong malah mendadak lupa semua kosakata. Akhirnya sadar kalau belajar bahasa enggres memang harus sering dipakai, bukan cuma dipelajari. Yang penting berani dulu, urusan salah bisa diperbaiki sambil jalan

    BalasHapus
  3. Dulu pernah kursus bahasa inggris dan pelajari tense seperti diatas, tapi gak ngerti-ngerti dan sulit kali diucapkan. Tapi semenjak tinggal diluar meskipun cuman beberapa tahun, pelajaran-pelajaran yang sulit dicerna itu tanpa sadar paham dan ngalir sendiri. Mungkin karena keterpaksaan dan mau gak mau harus diucapkan jadi ngena banget.

    BalasHapus
  4. Belajar bahasa inggris emang keliatan ribet dan susah. Gak semua bisa bahasa inggris hanya bisa yes atau no aja, eheheh. Penting banget buat belajar bahasa asing.

    BalasHapus
  5. Memang konsep 16 tenses tuh sering bikin pusing duluan sebelum sempat dicoba. Analogi kamera CCTV sama sudut pandang tadi benar-benar ngebuka mata. Bahwa bahasa sebenarnya cuma alat komunikasi, bukan sekadar rumus mati yang harus dihafal luar kepala.

    BalasHapus
  6. Kesalahan masyarakat Indonesia kebanyakan adalah terlalu sering ngata2in orang2 yang mempraktikkan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari2. Sok Inggris lah dll. Baru ngomong, udah langsung dibenerin. Padahal biarin aja percakapan mengalir, yang penting paham. Nanti selanjutnya juga bisa lancar dan benar kan :)

    BalasHapus
  7. Haha membaca artikel ini jadi ingat pengalaman sendiri pas pertama kali harus ngomong bahasa Inggris, rasanya lidah langsung kaku dan otak muter keras! Ditambah lagi sering takut kalau dikritik sama 'polisi grammar'. Padahal yang penting berani dulu, ya. Nanti juga lama-lama akan semakin paham penggunaan grammar yang tepat.

    BalasHapus
  8. dulu waktu sekolah ribet banget ngapalin rumus tenses hehe. Sebenarnya asal tinggal aktif bicara saja pasti lama-lama jadi lancar. Sayangnya aku itu ga pedean, jadinya orang lain ngomong inggris akunya ngerti, tapi pas mau bicara malah belibet

    BalasHapus
  9. Belajar tenses itu penting apalagi kalau mau ujian TOEFL dan masih belajar bahasa inggris di sekolah. Tapi yang penting ada keberanian untuk berbicara dulu saja. Salah benar urusan belakangan karena bisa belajar dan dipelajari terutama masalah tenses atau tata bahasa dan grammar

    BalasHapus
  10. Bagian bahasa Indonesia yang “terlalu santai” bikin aku ketawa sekaligus mikir. Memang kita terbiasa menyerahkan banyak informasi kepada konteks, jadi ketika bertemu bahasa Inggris yang lebih cerewet soal waktu, rasanya langsung ribet duluan. Penjelasan tentang waktu dan keadaan aktivitas di sini jauh lebih masuk akal daripada menghafalkan 16 kotak tenses. Seandainya dulu dijelaskan seperti ini, mungkin setiap pelajaran grammar aku nggak langsung pura-pura sibuk buka kamus. 😆

    BalasHapus
  11. Setuju sih, kita (saya) gak bisa bahasa inggris karena faktor takut 16 tenses itu, padahal mereka yang native kalo ngomong gak lihat tenses kali ya, sama kaya kita ngomong bahasa Indonesia, emang pake bahasa Indonesia yang baik dan benar? gak juga kan, malah jadi aneh ya...

    BalasHapus
  12. Nah, iya kalimat penutupnya sebuah perumpamaan yang pas sekali. Selama belajar bahasa inggris memang sepertinya ada salah metode dan ditambah sama rasa kurang percaya diri, padahal agak salah pelafalan itu lumrah saja. Kadang kalau bule ngajakin ngobrol pun mereka paham kita ini bukan orang mereka, kalau salah dikit aman aja. Jadi emang mi dset dan kepedean dalam ngomong bahasa inggris harus dilatih serta memahami konteks obrolan dan kosakata pun perlu ya.

    BalasHapus
  13. Kalau di bahasa Indonesia, selaian SPO, SPOK atau SPK ada tambahannya yaitu kalimat majemuk bertingkat setara atau yang bertentangan... Panjanglah jadinya hehe
    Pernah lihat di medsos yang intinya belajar bahasa Inggris ga ribet dengan tenses karena yang penting mereka tahu apa yang kita omongin... Makin sesuatu lagi kan 😁😁

    BalasHapus
  14. Pemikiran aku sama, dulu menganggap bahasa Inggris itu susah, kenapa sih ada verb 1,2,3 ... kenapa kalimat itu bisa berbeda berdasarkan waktu. Tapi setelah belajar bahasa Korea, aku jadi sadar kalau emang bahasa Indonesia itu terlalu santai. Karena di bahasa Korea ada juga tense nya walau nggak sama persis dengan B. Inggris.

    BalasHapus
  15. masalah tenses ini untuk kita yang bahasa indonesianya terlalu simpel memang jadinya susah banget yaa. kayak kok bisa sih ada kejadian yang sudah akan terjadi belum lagi harus menghafal verb 1, 2 dan 3 nya yang suka ketukar-tukar itu. tapi sebenarnya kan bahasa inggris ini lebih ke praktiknya untuk tenses itu biasanya untuk urusan kertas aja

    BalasHapus
  16. Melihat banyaknya tensis memang membuat kita sering mikir sebelum ngomong bahasa inggris. Tapi yang paling penting sebenarnya adalah punya lawan bicara biar lebih semangat belajar bahasa inggris..

    BalasHapus
  17. Seiring bertambahnya usia..
    Aku juga makin sadar diri.. bahwa skills yang kubutuhkan saat ini bukan skills akademik, dimana ada 16 tenses yang menghantui ituuh.. tapi karena bahasa adalah alat komunikasi, jadiii.. lebih baik memahami lawan bicara dan menyampaikan apa yang ingin kita sampaikan.
    **hahahha.. self defense activated!

    BalasHapus
  18. Haha bener banget, relate pol sama perjuangan hidup di era digital yang apa-apa kudu nyambung sama bahasa Inggris. Padahal aslinya cuma bisa "yes, no, yes, no" doang, wkwk. Seru dan kocak bacanya, makasih udah bikin ketawa hari ini!

    BalasHapus

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Gopaylater Ads